Hangzhou China, the green town

Hangzhou,  Zejiang province

Perjalanan dari Shanghai ke Hangzhou sekitar 2 jam naik bis. Kami mengikuti tur lokal (dengan guide lokal yang tidak bisa bhs inggris huhuhu…) sehingga apapun yang dia ceritakan, gw kaga ngerti… Tapi gw sangat terkesan dengan kota ini. Jalan-jalan nya bagus, punya jalur khusus di pinggir untuk sepeda dan motor, dan pepohonan hijauuuu di sepanjang jalan. Enak banget tuh buat sepedaan.. kapan yah jkt bisa kaya gini bagusnya…?? Betul-betul kota yg sejuk, rapi dan nyaman.

Kapan ya Jkt punya jalur sepeda kaya di Hangzhou gini?

Betah jika jalan kaki atau sepedaan di bawah pohon gini

Danau Xi Hu (West Lake)

Danau Xi Hu dikelilingi oleh taman-taman yang indah dan banyak kuil pagoda. Tarif naik kapal untuk melintasi danau ini sekitar 45 yuan. Setelah itu, kita bisa berjalan-jalan santai mengelilingi taman. Enak banget untuk refreshing, karena sejuk dan hijau dimana-mana.

Di atas kapal menyusuri danau

Pemandangan di sekeliling danau

pintu masuk taman xihu

Taman Xi Hu enak buat pacaran hahaha...

Silk Museum dan Tempat penjualan teh

Gak jelas namanya apa, tapi yang jelas tempat ini isinya mesin pemintal sutera, dan ujung-ujungnya ada jualan bed cover, kain-kain dan baju sutera. Barangnya mahal-mahal (rata2 di atas 1juta), dan gw ga terlalu tertarik untuk membeli. Di tempat penjualan teh juga kita ga beli apa-apa hehehe.. walaupun presentasi teh nya bagus. Gw lebih suka enjoy pemandangan kebun teh dan perbukitan di sepanjang perjalanan.

Ada satu tempat lagi yang seharusnya kita masuki, tapi gara-gara kita ga mengerti bahwa kita harus membeli tiket lagi untuk masuk ke dalam kuil tersebut (repotnya begini jika kita ga bisa bhs mandarin dan tur guide nya ga bisa English) kita ga jadi masuk. Soalnya tiketnya harus dibeli oleh tur guide (nah loh??) dan tur guide nya sudah meninggalkan kita untuk masuk duluan dan kita ketinggalan huhuhuhu…

Tempat penjualan sutera

Perkebunan teh seperti di puncak

Kuil yang kita ga bisa masuki

Perkampungan sekitar kuil

Advertisements

Semalam di Shanghai, China

Kota pertama yang kami singgahi adalah Shanghai.. Kota terbesar di China, dengan jumlah penduduk sekitar 15 juta jiwa. (bandingkan dengan Jakarta yang sekitar 8jt jiwa). Di sepanjang kota banyak apartment dan gedung-gedung tinggi yang berdesain moderen. Macet juga terjadi disini, walaupun Shanghai sudah memiliki Metro (MRT) dan Maglev (kereta api canggih). Tapi polusi asap kendaraan bermotor kok tidak kelihatan ya? Habis, yang gw liat semuanya mobil-mobil bagus dan tidak kelihatan asap knalpot sama sekali. Uniknya, motor mereka juga motor listrik (tidak menggunakan bensin) dan suaranya halus banget bahkan tidak bersuara, jauhhh banget dengan motor-motor di Indonesia yang berlomba-lomba dalam suara. Hanya saja, pengemudi mobil di Shanghai suka membunyikan klakson, jadi gw agak terganggu dengan suara klakson.

Jalan di Shanghai

Apartment di Shanghai

Jalan tol di Shanghai

Nanjing Roadadalah pusat shopping bagi para turis! Yah, kaya Pasar Baru di Jakarta, tapi tempat ini didesain dengan keren dan bersih, nyaman banget untuk pejalan kaki. Apalagi jika malam hari, wah semua bilboard tokonya menyala terang warna warni. Jika kita hanya ingin melihat-lihat tanpa berbelanja, kita bisa naik kereta kecil dari ujung ke ujung (karena jalan nya lumayan panjang loh, 1km lebih..) Tapi jika kita ingin shopping atau foto, jalan kaki aja lebih seru. Kalau cape, kita bisa duduk di kursi-kursi semen yang disediakan di tengah-tengah jalan. Di sepanjang jalan ini terdapat Dept Store, supermarket, dan toko-toko pakaian branded. Mau cari sepatu, baju, tas, makanan dan suvenir, banyak disini. Tapi harganya kayanya ga murah deh… kayanya sama aja seperti di Jakarta. Yang enak suasananya, semakin sore semakin ramai.
 

 

Setelah menyusuri Nanjing Road (ikuti saja kemana orang banyak pergi) maka kita akan sampai di Shanghai Bund yang sangat terkenal… Shanghai Bund adalah daerah pinggiran sungai HuangPu. Di seberang sungai kita bisa melihat pemandangan Shanghai Tower, Shanghai World Financial Center (gedung tertinggi di Shanghai yang memiliki 100 lantai) dan gedung2 moderen lainnya. Tapi di sebelah sisi yang dekat Nanjing Road, malah terdapat gedung-gedung berarsitektur Eropa klasik. Pemandangan pada malam hari lebih bagus, karena semua gedung-gedung itu dipasangi lampu kuning. Gedung-gedung kuno ini tampaknya sudah berusia ratusan tahun. Betah banget duduk ngobrol sambil menikmati pemandangan disini. Banyak banget orang disini, tidak terhitung banyaknya, sampe sulit untuk berfoto tanpa terhalangi orng lain.

the Shanghai Bund

Gedung arsitektur eropa di Shanghai Bund

Gedung dipasangi lampu2 pada malam hari

night at shanghai bund

coba ada tempat nongkrong kaya gini di Indo...

Makanan. Jika kita ingin mencicipi masakan china, banyak sekali restoran di sekitar Nanjing Road. Tapi jika kita bingung mau makan apa (ga tau tempat makan yang enak), gw saranin lebih baik ke restoran2 internasional aja yang kita sudah tau. Kebetulan hotelku dekat Pizza Hut, jadi kita mampir untuk makan disitu (sebelumnya makan mie di restoran apa gitu, tapi ga enak hehehe…). Lucunya gw baru tau kalo org2 disini ternyat ga makan sambal kaya kita gitu loh! Jadi waktu gw minta sambal di pizza hut, ga ada. Ketika gw lihat ke semua meja, ternyata ga ada yang makan pake sambal. Pantesan sodara gw yg ikut rombongan kita bawa sambal abc kesini. KFC disini juga ga pake sambal juga. Jadi,bagi para pecinta sambal yang mau ke china, bawa sendiri ya sambalnya dari Indo hehehe…

the Twelve Disciples (Matthew/Levi, the tax collector)

Disciples of Christ: Matthew The Tax Collector 

Matthew was a “publican” or tax collector for the Romans. Tax collectors made a good living. They were generally despised by their fellow Jews and merely tolerated by their Roman employers. Tax collectors were creative in finding ways to tax the people. Luke 3:13 states, “They overcharged [and] brought false charges of smuggling in the hope of extorting hush-money”. Other ways of making money included taxes on axles, wheels, animals, roads, highways and admission to markets. Some even charged pedestrians taxes.

Mark (Mark 2:14) and Luke (Luke 5:27) refer to Matthew as Levi. Matthew may have been from the tribe of Levi. The tribe of Levi was largely absorbed by the tribe of Judah after the kingdom of Judah had been exiled and returned from Babylon several centuries prior. Matthew was probably fluent in Greek and Aramaic. Greek was the official language while Aramaic was the local dialect. Matthew was literate and an educated writer and scribe. It is also believed that he knew a form of shorthand called tachygraphy. This may be the reason why he was able to write the detailed accounts of Christ’s spoken sermons including the long Sermon on the Mount.

Matthew resided in Capernaum located on the northern shore of the Sea of Galilee. This was a large region that was heavily populated. Many lived and worked around the lake. It had numerous fisheries and lots of surface traffic because it was a major trade route through the region. The Romans set up a customhouse in the region and appointed Matthew as the tax collector. This was considered a lucrative and powerful position because he was supported by the strength of the Roman Empire. Rome was the greatest power on the earth. Because of the lucrative trade and fishing industries, Matthew probably had a very profitable position and was probably considered wealthy.

Matthew had a very profitable career, backed by the power of Rome. He probably had acquired great wealth and was not lacking in worldly needs. He was able to have lavish feasts to entertain many guests. Though he was despised by most of his fellow countrymen, he probably had other friends that were also quite wealthy and only concerned by worldly goods. He probably entertained officials from Rome who merely acknowledged his presence but benefited from the food and wine.Matthew abruptly went from serving money to serving the Lord. Matthew, Mark, and Luke all recorded Matthew’s calling. Scripture implies Matthew willingly gave up everything as required by Christ. “If anyone comes to Me and does not hate [that is, to love less or place in lower priority] his father and mother, wife and children, brothers and sisters, yea and his own life also, he cannot be My disciple. And whoever does not bear his cross and come after Me cannot be My disciple” (Luke 14:26-27). One day, Matthew was sitting at the tax office when his life changed from serving man to serving the Lord. Matthew 9:9 describes the change: “As Jesus passed…He saw a man named Matthew sitting at the tax office. And he said to him, “Follow Me.” So he arose and followed Him”.

Matthew responded with great enthusiasm at His calling by Jesus Christ. Matthew prepared a feast for Jesus and His other disciples. Matthew also invited his other friends who included other tax collectors, scribes, and Pharisees. This feast provided a spiritual lesson. While wining and dining his guests, the Pharisees asked Jesus and His disciples “Why do you eat and drink with tax collectors and sinners? Jesus answered them and said to them, “Those who are well have no need of a physician, but those who are sick. I have not come to call the righteous, but sinners, to repentance” (Luke 5:29-32).

The scribes and Pharisees held a self-righteous attitude. They did not consider themselves sinners. They felt they had no reason to change.

In contrast to Matthew, there is another story of another wealthy young man. This young man approached Jesus and asked what was required for eternal life. Point blank, Jesus answered “keep the commandments” (Matthew 9:17). The young man asked Him which ones he meant. Jesus responded by citing several of the Ten Commandments.. The young man replied that he had faithfully kept the commandments since childhood. He asked what else he could do. Jesus replied, “If you want to be perfect, go, sell what you have and give to the poor, and you will have treasure in heaven; and come, follow me” (Matthew 19:21). The young man walked away dejected, “for he had great possessions (verse 22). Jesus turned to His disciples: “Assuredly, I can say to you that is harder for a rich man to enter the kingdom of heaven. And again I say to you, it is easier for a camel to go through the eye of a needle than for a rich man to enter the kingdom of God” (verses 23-24).

Matthew willingly chose to follow Christ. The young man placed material wealth over spiritual wealth. This is so common in the present. There is almost a quest for the almighty dollar. But at what price? Is the dollar worth more than a child’s first step? Is the dollar more important than self worth? What price are you willing to pay? Do you want the rewards of this Earth or do you want the rewards in heaven? Matthew was posed these same questions. He had worldly possessions and wealth. He chose to cash this in for spiritual wealth. Given the opportunity, would you do the same?

Matthew followed Jesus’ call. He gave up the rich luxurious life to become one of Christ’s disciples. Matthew was blessed to witness the miracles that Christ performed. He went on to write the Gospel that has detailed so much of Christ’s time on earth. Matthew was once a publican; He answered the call to become one of Christ’s disciples. He gave up material wealth to become one with God. Matthew witnessed and recorded the crucifixions, death, and resurrection of Jesus Christ. Would you do the same?

(a good thought from source http://www.essortment.com/all/biblematthew_rbus.htm )

God did not love Levi any more than he loves you and me. He is calling us today just as he was calling Levi 2000 years ago;

1. We are called while in sin
2. We are called by Christ
3. We are called to repentance
4. We are called to follow
5. We are called to share our faith



the Twelve Apostles (Philip and Nathanael)

Filipus, mengawali “kariernya” sebagai murid Yesus dengan langsung membawa Natanael ke Yesus.  Awal yang luar biasa bukan? Dari sejak awal dia punya keyakinan bahwa dia telah melihat nubuat Musa ttg Yesus.  (yoh 1:43)

Dalam perjalanan kariernya, tampaknya Filipus mengalami “kemunduran”.  Di Yoh 6:5-7, Yesus menguji Filipus dengan menyuruhnya membeli roti untuk 5000 org.  Respon Filipus adalah gaji 8 bulan pun tidak cukup untuk membeli roti ut org sebanyak ini! (di dalam alkitab indo, dituliskan roti seharga 200 dinar, di alkitab NIV tertulis “gaji 8 bulan”).  Tidak seperti Andreas yang berusaha untuk mencari solusi, Filipus berpikir akan beban dari suatu kondisi.

Ketika kita berhadapan dengan kondisi yang tidak mudah, apakah yg kita pikirkan? apakah kita akan merespon seperti Filipus? (waduh, gak ada jalan keluar mah kalo kaya gini)  Kadang2 Tuhan mau melakukan sesuatu, tapi Dia “hanya” ingin menguji iman kita.  Dia hanya ingin tahu “apa yg kita pikirkan”.

Yoh 14:7-10 kembali menceritakan kebodohan Filipus ketika dia minta Yesus untuk menunjukkan Bapa kpd mereka.  Kali ini Yesus menegur kebodohan dia.  (Saya membayangkan muka Filipus saat itu).  Tanpa sadar, kita bisa menjadi seorang kristen yang bodoh, karena tidak peka terhadap pekerjaan Tuhan.  Tuhan bekerja di sekeliling kita lewat FirmanNya, orang2, alam, dan berbagai kejadian.  Jika kita mengaku kristen, seharusnya kita lebih peka dan bisa belajar dari semua itu untuk mengetahui kehendak Tuhan.  Jika kita masih bodoh hari ini, apakah kita humble untuk belajar? dengan mempelajari Firman Tuhan, itu akan membuat kita lebih mengetahui kehendak Tuhan dan menguatkan iman kita. aminn

Natanael/ Bartolomeus

Bartholomew and Nathanael are recorded in the listings of the twelve apostles, but never together. In Matthew, Mark and Luke, Bartholomew is listed as one of the twelve, but Nathanael is not. Conversely, in John, Nathanael is listed, but Bartholomew is not. From that, many logically assume that Bartholomew and Nathanael were actually the same man who was known by two names, just as, for example, Peter was also known as Simon. Another clue that Bartholomew and Nathanael were the same apostle is that they are commonly mentioned with the apostle Philip e.g. “Philip and Bartholomew” (Matthew 10:3, Mark 3:18, Luke 6:14) or “Philip findeth Nathanael” (John 1:45 KJV)

(source : http://www.keyway.ca/htm2005/20051130.htm )

the Twelve Apostles (the doubting Thomas/ didymus)

Thomas appears in some passages in the Gospel of John. In John 11:16, when Lazarus has just died, the disciples are resisting Jesus’ decision to return to Judea, where Jesus’ fellow Jews had previously tried to stone him. Jesus is determined, and Thomas says bravely: “Let us also go, that we might die with him” (NIV).

He also speaks at The Last Supper.[Jn. 14:5] Jesus assures his disciples that they know where he is going but Thomas protests that they don’t know at all. Jesus replies to this and to Philip’s requests with a detailed exposition of his relationship to God the Father.

In Thomas’ best known appearance in the New Testament, [Jn. 20:24-29] he doubts the resurrection of Jesus and demands to touch Jesus’ wounds before being convinced. Caravaggio’s painting, The Incredulity of Saint Thomas (illustration above), depicts this scene. This story is the origin of the term Doubting Thomas. After seeing Jesus alive (the Bible never states whether Thomas actually touched Christ’s wounds), Thomas professed his faith in Jesus, exclaiming “My Lord and my God!” On this account he is also called Thomas the Believer.

(source http://en.wikipedia.org/wiki/Thomas_the_Apostle )

Thomas dikenal dengan “tomas yang tidak percaya”, tetapi buku Yohanes mencatat bbrp kejadian yang memperlihatkan sisi lain Tomas

Yoh 11:16 Tomas menunjukkan keberanian dan kesetiaan untuk mengikuti Yesus ke rmh Lazarus.  Padahal di pasal sebelumnya, Yesus baru saja kembali dari sana setelah dilempari batu oleh org2 yahudi.

Yoh 14:5 Tomas jujur dan bertanya kepada Yesus apa yang dia tidak mengerti

Yoh 20:24 Tomas absen ketika Yesus menampakkan kebangkitanNya kpd murid2 lain.  Tomas menjadi ragu, tapi Yesus menjawab keraguan Tomas dan menunjukkan tanganNya.

Yoh 20:28-29 Pengakuan iman tomas setelah melihat yesus

Yesus sangat personal dengan Tomas.  Dia tidak menyalahkan keraguan Tomas, tapi Dia menjawabnya.  Di dalam hidup kita, mungkin kita terkadang ragu terhadap Tuhan.  Jika kita punya hubungan yang personal dengan Tuhan, Tuhan akan menjawab doa2 kita spt Dia berkata kpd Tomas “blessed are those who have not seen, and yet have believed” amin

 

the Twelve Apostles (John, the disciple Jesus loved)

John was the brother of the apostle James; he was also the son of Zebedee (a fisherman of Galilee.)  His mother’s name was Salome who is believed to be a sister of Jesus’ mother Mary.

It is said that John owned a home in Jerusalem and that it is possible that the interview Nicodemus had with Jesus was held there.

The apostle John rose to a position of influence within world-wide Christianity and shortly before the destruction of Jerusalem by the Romans in 70 AD, he moved to Ephesus (in modern day, Turkey.)  He became the pastor of the church in Ephesus and had a special relationship with other churches in the area (as we know from the letters to the Seven Churches in Asia, in the book of Revelation.)

John’s brother, James, was the first of the apostles to die; on the other hand, John was the last.  All of the apostles met a violent death, however, John died peacefully in Ephesus (at an advanced age, around the year 100 AD.)

There is a church tradition, which says, that while John was living in Ephesus, John had with him Mary, the mother of Jesus, for a few years.

While in Ephesus, by order of the Roman emperor Domitian, John was exiled to an island called Patmos.  In what is known as the cave of the Apocalypse (located on this island), the sacred text of the book of Revelation was given to the apostle John by Jesus (it is here that John recorded what is written in the New Testament book of Revelation.)

Other New Testament books accredited to John are the Gospel of John, along with 1st, 2nd and 3rd John. When he was released from exile, he returned to Ephesus and lived till the time of the Roman emperor Trajan.

It is said that John, “Founded and built churches throughout all Asia, and worn out by old age, died in the sixty-eight year after our Lord’s passion and was buried near the same city (Ephesus).”

(source http://www.biblepath.com/john1.html )

Yohanes adalah penulis injil yang paling “personal” dengan Yesus, karena dia banyak sekali menceritakan tentang hubungan Yesus dengan orang2, dan ajaran2 Yesus yang dalam, yang tidak ada di injil lainnnya.  Menarik bagiku, dia menyebut dirinya sebagai “murid yang dikasihi Yesus”.  Tidak heran kenapa dia menuliskan banyak tentang kasih di buku 1-3 Yoh.  Membaca buku2 dia, sangat memberikan aku banyak encouragement.  God is Love, dan itulah yang dia betul2 rasakan sendiri dari kebersamaan nya dengan Yesus.  Yohanes mengikuti Yesus hingga di bawah kaki salib, dia adalah satu-satunya murid yang tercatat berada di kaki salib bersama Maria, ibu Yesus.  Yesus menghargai kesetiaan Yohanes dan bahkan meminta Yohanes untuk menjaga Maria. Wow! ini lah sebuah kisah persahabatan yang luar biasa antara Yesus dan Yohanes.

Kasih Tuhan hanya dapat dirasakan dan dinikmati, jika kita punya hubungan personal dengan Tuhan.  Kita bisa mendengar kotbahbahwa “Tuhan itu mengasihi” tapi belum tentu kita pribadi mengalami hal itu.  Siapa Tuhan buat kita pribadi? hanya sebagai pencipta, atau sebagai sahabat kita, yang kita selalu datang kepada Dia, dan kita punya hubungan dengan Dia?  Ada saat2 ketika aku merasa dekat dgn Dia ketika aku konsisten berdoa, membaca Firman, dan melakukan hal2 untuk menyenangkan Dia.  Tetapi ada juga saat ketika aku menjauhkan diri karena berdosa dan tidak fokus.  Aku bisa merasakan perbedaan “kasih Tuhan” dalam 2 waktu yang berbeda itu.  however, perjalanan rohani memang tidak mudah tapi aku tau bahwa ini adalah hal yang terpenting buatku, untuk mengasihi Tuhan dengan segenap hati, pikiran, dan kekuatan. amen

“TUHAN” di Korea Utara

Berbagai berita seputar penyerangan Korut ke Pulau Yeonpyeong, Korsel, membuat aku teringat kepada film yang pernah aku tonton sebelumnya.  National Geographic Channel membuat investigation film tentang Korut beberapa tahun yang lalu.  Lisa Ling, reporter Nat Geo membeberkan cerita yang luar biasa tentang negara paling misterius di dunia.  (Lisa Ling adalah kakak dari Laura Ling, jurnalis yang pernah ditangkap oleh Korut dan dibebaskan setelah negosiasi yang dilakukan oleh mantan presiden Bill Clinton pada bulan Agustus 2009).

Tidak semua orang asing dapat masuk ke Korut, sehingga tidak mudah untuk bisa mendapatkan informasi mengenai keadaan rakyat Korut.  Seorang dokter (aku lupa nama dokter yang luar biasa ini)  membawa misi kemanusiaan untuk menyembuhkan penderita katarak di Korut .  Lisa Ling dan juru kamera menyamar sebagai anggota misi yang akan mendokumentasikan kegiatan penyembuhan tersebut, tapi ternyata mereka entah bagaimana, juga diperbolehkan untuk meliput gambar2 di sekitar rumah penduduk Pyongyang.

Diceritakan bahwa rakyat Korut sangat tertutup dan tidak punya akses informasi terhadap dunia luar.  Mereka tidak punya handphone, apalagi internet.  Semua jaringan media dikontrol dari pemerintah dan tentu hanya menayangkan berita “versi pemerintah”.  Bahkan buku-buku yang ada pun berasal dari pemimpinnya.  Teringat aku ketika Indonesia di jaman Pak Harto.  Tapi di Korut ternyata keadaannya lebih parah.  Rakyat tidak boleh menggunakan barang impor, padahal pemimpin nya, Kim Jong Il, adalah penyuka anggur Cognag dan mengkoleksi banyak limosin.  Selain itu, dia juga memiliki koleksi 20rb film.  Seorang mantan pejabat Korut bernama Kim Jong Ryul yang bertugas sebagai “pembeli barang2 impor untuk diktator” mengakui dia bisa membeli apa saja, mulai dari teknologi mata-mata, senjata dan pesawat kecil hingga mobil mewah dan karpet, serta sepucuk pistol berlapis emas untuk Kim Il Sung, ayah Kim Jong Il.

Sejak berakhirnya Perang Korea (hanya gencatan senjata, tapi tidak ada perjanjian damai), pemerintah Korut mengajarkan doktrin untuk membenci Korsel dan AS.  Bahkan ada lagu yang diajarkan yang isinya menjelek2 kan AS.  Aku tidak peduli dengan masalah politik mereka, tapi aku merasa kaget melihat di setiap rumah penduduk, pasti ada foto pemimpin nya.  Luar biasa melihat sikap rakyat Korea terhadap foto pemimpin nya.  Mereka bisa membungkuk dan menyembah foto pemimpin nya, dan bahkan bisa menangis ketika berbicara ttg “pemimpin tersayang” nya. Indoktrinasi ini dilakukan dari sejak anak2, bayangkan saja apa yang diajarkan di semua sekolah disana.  Betul2 pemimpin yang berhasil membuat rakyatnya memuja dirinya.

Ketika tim dokter sampai di rumah sakit terbagus di pyongyang, sarana yang terlihat begitu menyedihkan.  Meja operasi penuh dengan darah, dan botol infus sepertinya dari botol kecap.  Untunglah tim dokter mata ini membawa peralatan lengkap.  Dokter yang luar biasa ini harus menyembuhkan 1000 penderita katarak dalam waktu 10 hari.

Diceritakan bahwa Korut memiliki sebuah “kamp penyiksaan” bagi setiap warga yang berkata-kata menyinggung pemerintah.  Jika ada satu orang “salah ngomong sedikit” maka dia dan seluruh keluarganya akan dibawa ke kamp tersebut dan tidak akan pernah kembali lagi ke rumah mereka.

Keadaan di sekitar tembok perbatasan 2 korea “sangat dingin”.  Jika pihak Korsel ingin mengirim pesan kepada Korut, maka pihak pos Korsel harus menelpon ke pos Korut (yang jaraknya cuma 5 meter mungkin?) dengan telepon model lama.  Kadang kala belum tentu pihak Korut merespon, sehingga akhirnya pihak Korsel harus berteriak dengan toa untuk menyampaikan pesan.  Itu pun belum tentu akan direspon oleh pos penjaga Korut.  Korut hanya merespon bila ada perintah dari petingginya.  Salah satu penjaga perbatasan Korut yang berhasil melarikan diri ke Korsel setelah meresikokan nyawanya sendiri melewati pagar listrik, berbicara.  Dia mempunyai penghasilan yang cukup dan posisi yang lumayan, tapi itu tidak membuat dia senang.  Yang dia inginkan hanyalah kebebasan, dan kebebasan tidak ada di Korut.  Dia bahkan tidak tahu bagaimana nasib keluarganya setelah dia melarikan diri.

Di salah satu sudut kota Pyongyang, terdapat patung pemimpin sebelumnya, Kim Il Sung, dalam ukuran Super Besar. Setiap orang yang melihat patung itu akan menunduk untuk memberikan penghormatan.  Semua orang Korea Utara dididik di sekolah bahwa kehidupan sehari-hari mereka termasuk berpakaian, makan dan pekerjaan mereka semua dapat diwujudkan ‘berkat ketua Kim’.  Portrait Kim ditaruh di semua rumah tangga, dan tempat suci termasuk 35 ribu patung Kim , didirikan di seluruh pelosok negeri.

Pendewaan itu dilanjutkan bahkan setelah kematian Kim.  Jenajahnya dipelihara selama-lamanya di istana kepresidenan di Pyongyang, dan otoriternya tersisa atas nama ‘ketua lamanya’, filsafat dan ajarannya masih dilaksanakan atas nama ‘sistem kekuasaan politik dengan pewarisannya, yang diteruskan oleh anaknya sekarang, Kim Jong-il.

 

Bagian akhir film menceritakan situasi ketika 1000 orang yang telah disembuhkan dari operasi katarak dibuka perban nya satu persatu.  Setiap kali satu orang dibuka perban nya dan dia dipastikan bisa melihat, orang itu akan langsung maju menghadap foto 2 pemimpin Korut yang dipajang di dinding depan.  Dengan menangis, bahkan berteriak, mereka menyembah foto itu, berterima kasih, dan… betul2 baru kali itu saya “tercengang” melihat bagaimana manusia memuja pemimpinnya.  Bukan nya mereka berterima kasih kepada tim dokter yang telah menyembuhkan mereka, mereka malah meng-elu-elukan pemimpin nya.  Barulah saya sadar dan sedih, bagaimana seorang manusia bisa menjadi “Tuhan” dengan kepemimpinan diktatornya.  Kasihan sekali dengan rakyat Korut yang dibodohi sejak perang Korea thn 1953.  Semoga hal ini dapat menjadi pemikiran kita semua tentang bagaimana jahatnya hati manusia sehingga dapat menyebabkan penderitaan 1 bangsa, dan terus berdoa untuk keadaan disana dapat berubah.