Mengenang Ci Hanny

Suatu hari di pertengahan bulan Juni 2013.  Salah seorang teman di gerejaku, Susani, menghubungi aku.  Susani adalah salah satu orang yang aku sangat hargai.  Seorang wanita single yang mandiri, pengusaha, namun masih memberikan hati dan waktunya untuk memimpin sebuah grup wanita-wanita sebayanya (Precious Woman) di  Gereja (GKDI Jakarta).  Susani menceritakan tentang keadaan seorang saudari di gereja, yaitu Hanny.  Saat itu Hanny sedang bergumul dengan penyakit kankernya, dan sedang dirawat di RS Dharmais.  Kondisinya semakin menurun, dan hanya bisa berbaring di ranjang.  Dokter telah berkata tidak ada hal yang dapat dilakukan lagi, namun semangat hidup Hanny masih sangat besar.  Mungkin karena hal itulah, Hanny masih terus bertahan selama 4 tahun terakhir.  Ya, sejak awal tahun 2009, Hanny sudah divonis terkena kanker paru-paru stadium 3b.  Kemungkinan masa hidupnya tinggal 6 bulan saja kata dokter.  Namun kasih karunia Tuhan dan semangat hidup Hanny membuatnya terus berjuang hingga Tuhan memanggilnya kembali pada tanggal 13 September 2013.  Sebenarnya kondisi Hanny sudah kritis sejak akhir bulan Juni. Saat itu Hanny meminta Susani untuk bisa membagikan kisah hidup dirinya kepada banyak orang.  Jika dia meninggal, dia berharap perjalanan hidupnya dengan Tuhan dapat membawa keluarga dan teman-teman nya mengenal Tuhan juga. Susani kemudian meminta bantuan aku untuk menuliskan cerita hidup Hanny.  Sungguh aku terharu mendengar hal tersebut. Jadi beginilah, dengan segala keterbatasan waktuku, aku berusaha menyanggupi permintaan Susani. Cerita yang aku tuliskan (thanks to Helen Koe, yang telah membantu mengumpulkan sebagian cerita) tentu saja tidak selengkap kisah hidup dia sebenarnya, namun aku berusaha mengumpulkan cerita dari beberapa orang yang masih mengingat moment-moment dengan Hanny. Ternyata, kisah hidup Hanny tidak hanya membuatku belajar dari hidupnya, namun membuatku terkagum akan kasih karunia Tuhan. 

Nama yang sebenarnya adalah Indah Susanti Tjin.  Namun orang-orang biasa memanggilnya dengan nama Hanny. Lahir di Pontianak tanggal 14 Februari 1960, anak ke-4 dari 9 bersaudara.  Pada umur 17 tahun, Hanny merantau ke Jakarta mengikuti kakak perempuannya yang sudah merintis bisnis di sana.  Dia tinggal di rumah paman nya.  Tiga tahun kemudian, semua keluarganya pindah ke Jakarta, termasuk orang tuanya. Hanny pun tinggal bersama orang tuanya, namun tidak lama karena dia tidak tahan dengan papa dan mamanya yang sering bertengkar.  Akhirnya setelah cicinya menikah pada tahun 1982, Hanny juga pindah dan tinggal bersama keluarga cicinya. Dengan bantuan cicinya, Hanny mulai fokus untuk berdagang. 

Usia 25 tahun, Hanny berpacaran dengan seseorang dengan inisial H.  Hanya satu tahun berpacaran, mereka menikah di awal 1986 .  Anak pertamanya, Christopher, lahir di tahun yang sama.  Hanny berpikir kehidupan nya akan menjadi enak setelah menikah lantaran suaminya berasal dari keluarga yang berada. Namun ternyata kenyataan yang terjadi malah sebaliknya.  Pernikahan mereka baru berjalan satu tahun ketika suaminya mulai bergaul dengan teman nya yang tidak benar. Pulang malam, berjudi, dan menghabiskan uang dengan wanita lain, tiba-tiba menjadi kebiasaan buruk suaminya.  Hal itu terus berlangsung hingga mereka memiliki anak kedua, yaitu Grace.  Hanny berusaha untuk tetap bersabar dan berharap, demi anak-anaknya.  Namun suaminya tidak berubah walaupun chris dan grace menderita sakit asma.  Dengan keadaan seperti itu, Hanny menjadi sangat stress merawat anak-anaknya.

Tahun 1993, suaminya kalah dalam berjudi, dan tidak mampu membayar kekalahan nya tersebut.  Suaminya berniat kabur ke luar negeri bersama wanita simpanannya.  Hanny sering didatangin penagih hutang dan anaknya juga diancam akan diculik.  Saat itulah Hanny memutuskan untuk bercerai. Tujuh tahun pernikahan, terasa begitu menyakitkan untuk Hanny.  Namun dia harus mengambil keputusan untuk dirinya dan anak-anaknya, padahal di tengah kondisi Christopher (anak pertamanya) yang masih belum membaik dan sering menanyakan ayahnya. Akhirnya Hanny pergi dari rumah membawa kedua anaknya, dan menumpang di rumah cicinya. Namun dikarenakan cicinya tidak bisa menampung mereka semua, Christopher yang baru kelas 2 SD terpaksa dititipkan beberapa tahun di rumah mertuanya.  Hanya Hanny dan Grace yang tinggal di rumah cicinya.  

Sulit bagi Hanny untuk meninggalkan Chris.  Ketika Chris kelas 5 SD, Hanny pergi menjemput dia dari rumah mertua dan membawanya untuk tinggal bersama di daerah Jembatan Lima.  Setelah Chris lulus SD, mereka pindah lagi ke daerah Jelambar.  Hanny diberikan sebuah ruko oleh kakak iparnya untuk tempat tinggal mereka.  Mereka tinggal disana selama kira-kira 6 tahun, hingga Chris lulus SMA.

Dengan pengalaman hidupnya yang pahit, Hanny harus bekerja keras untuk mencukupi kebutuhan keluarganya.  Dia menjadi orang yang ambisius dan fokus mencari uang.  Dia tidak pernah berpikir untuk mencari Tuhan.  Namun sebaliknya, ternyata Tuhan mempunyai rencana untuk Hanny.  Di pertengahan tahun 1998, Hanny berkenalan dengan seorang wanita bernama Melany sewaktu sedang membeli obat di apotik. Melany adalah seorang Kristen dan ingin bersahabat dengan Hanny.   Melany juga mengundang Hany untuk datang ibadah ke gereja.  Namun Hanny tidak mau datang dan malah menjadi curiga dengan niat Melany, karena Hanny tidak mudah untuk percaya lagi dengan orang lain.  Namun ketulusan kasih Melany akhirnya membuat Hanny ingin datang ke acara gereja.  Bahkan akhirnya Hanny mau diajak untuk belajar mengenal Alkitab. 

Pertemuan belajar Alkitab selalu diisi perdebatan antara Hanny dengan orang-orang yang mengajarnya.  Banyak orang yang membantu dia antara lain Natalia, Lili Citro, Liana hingga Lipin yang bergantian mengajar Hanny.  Namun tentu tidak mudah bagi Hany untuk percaya kepada Tuhan.  Apa yang dia rasakan tentang Tuhan adalah “jika betul Tuhan itu baik, kenapa hidup saya begitu susah?  padahal saya sudah bekerja keras.. ” itulah pertanyaan yang selalu ada di pikiran Hanny. 

Suatu hari seorang saudari membagikan sebuah ayat dari  

Yeremia 15:5-8 Beginilah Firman TUHAN: terkutuklah orang yang mengandalkan manusia, yang mengandalkan kekuatannya sendiri, dan yang hatinya menjauh dari pada Tuhan!

 Ia akan seperti semak bulus di padang belantara, ia tidak akan mengalami datangnya keadaan baik; ia akan tinggal di tanah angus di padang gurun, di negeri padang asin yang tidak berpenduduk.

Diberkatilah orang yang mengandalkan TUHAN, yang menaruh harapannya pada TUHAN!

Ia akan seperti pohon yang ditanam di tepi air, yang merambatkan akar-akarnya ke tepi batang air, dan yang tidak mengalami datangnya panas terik, yang daunnya tetap hijau, yang tidak kuatir dalam tahun kering, dan yang tidak berhenti menghasilkan buah.

Ayat ini membuat Hanny sangat kaget dan mulai berpikir, mungkin selama ini dia terus gagal karena mengandalkan kekuatan nya sendiri, dan tidak pernah menaruh pengharapan kepada Tuhan.  Ayat ini sangat berkesan dan diingat oleh Hanny sampai akhir hidupnya.  Akhirnya setelah belajar Alkitab selama beberapa bulan, Hanny mengambil keputusan untuk percaya kepada Tuhan Yesus, mau bertobat, dan dibaptis tanggal 21 Maret 1999.  Lahir baru memberikan hati yang baru dan pengharapan baru kepada Hanny, namun bukan berarti segala karakter dan kelemahan nya langsung berubah.  Hanny terus dibimbing oleh saudari-saudari di Gereja untuk membantu dia fokus kepada kehidupan sebagai Kristen yang baru.

Fase kehidupan Hanny selanjutnya diceritakan dalam bentuk testimonial dari orang-orang yang dekat dengan Hanny

Testimonial dari Tante Muchen, saudari di Gereja yang membimbing Hany di tahun pertamanya ketika dibaptis :

“Secara natural, Hanny itu orang yang emosional, tidak sabar, dan perfeksionis. Dalam bersahabat, dia tidak mudah untuk percaya sampai dia melihat orang itu betul-betul tulus.  Namun sebaliknya, dia sendiri pun jika mengasihi memang sangat tulus dan tidak perhitungan.  Saat-saat awal dia dibaptis, dia dibimbing sama Melany, kemudian diganti ke saya yang bimbing dia. Dia orangnya sangat bawel..  Dulu ketika saya sudah tinggal di Kelapa Gading dan mau bertemu dengan dia di Gajah Mada, dia akan mengantar saya pulang naik mobil ke Kelapa Gading.  Di sepanjang perjalanan itu, dia bisa curhat panjang lebar tentang keluarganya.  Saya berusaha untuk banyak mendengarkan, setelah sampai di Kelapa Gading barulah saya punya kesempatan untuk gentian bicara.  Tahun 2001 ketika dia sudah tinggal di Jelambar, dia selalu menawarkan tempatnya untuk tempat menginap bagi saudara/I dari GKDI Bandung yang datang ke Jakarta jika ada event.

Suatu hari ada anak dari kakak saya tidak pulang ke kosan nya di daerah Grogol, dan kami menjadi sangat kuatir karena tidak ada kabar. Waktu saya ceria ke Hanny, dia langsung mengajak saya pergi ke semua RS, dan masuk ke bagian UGD untuk mencari anak tersebut.  Hany berpikir jangan-jangan dia mendapat kecelakaan. Syukurnya anak tersebut hanya pergi ke puncak hahaha… “ (Tante Muchen via telepon, 7 Agustus 2013)

Testimonial dari Rita, saudari yang membimbing Hany ketika berada di group Single Pluit sekitar tahun 2001 – 2003 :

“Waktu saya membimbing Ci Hanny, dia orangnya sangat perhatian dan giving.  Walaupun saya masih single dan dia lebih berpengalaman dalam hidup, dia tetap rendah hati untuk belajar.  Waktu itu saya ngekost, dan sering diminta menginap di rumahnya di Jelambar.  Bahkan Grace anaknya meminta saya untuk tinggal, dan saya pernah tinggal 1 bulan bersama mereka.  Saya melihat dia begitu mengasihi anak-anaknya, terlepas dari cara dia yang terkadang agak keras terhadap mereka. Dia suka memasak dan sering mengajak kami makan bersama di rumahnya. Ketika saya menikah dan pergi honeymoon ke Bali, Ci Hanny sedang ingin pergi juga ke Bali untuk mengunjungi saudaranya yang baru melahirkan. Dia sangat giving, dari membantu mencarikan hotel yang bagus tapi murah, membawa kami jalan-jalan selama di Bali,  sampai mentraktir kami disana. Betul-betul sebuah kasih yang tulus dan tidak tanggung-tanggung.  Saya dan Fardi sampai merasa tidak enak…” (Agustus 2013)

Testimonial dari seorang saudara yang tidak ingin disebutkan namanya

“Sekitar tahun 2000, saya pernah meminta bantuan Ci Hanny untuk membantu saudara wanita saya.  Saat itu saudara saya sedang mengalami masalah yang berat karena dalam kondisi hamil dan berpisah dari suaminya. Ci Hanny punya empati yang sangat tinggi, akhirnya dia bersedia untuk menampung saudara saya selama satu bulan di rumahnya, dan membantu saudara saya untuk belajar alkitab. Akhirnya saudara saya menjadi Kristen.  Ini adalah sebuah kebaikan yang luar biasa.” (September 2013)

Testimonial dari Natalia, pembimbing Hani ketika di grup Single Pluit :

“Ci Hanny suka makan dan pintar masak. Semua masakannya sangat enak.  Kadang-kadang dia membawa makanan waktu ibadah pertengahan minggu untuk single-single yang baru pulang dari kantor yang belum makan. Dan dia selalu membawakan saya susu kacang dan juice jeruk buatan dia sendiri. Seseorang yang sangat memberi dan melayani. Kalau di dekat dia, kita tidak akan kehabisan makanan.  Di dalam tasnya selalu tersedia makanan kecil yang siap ia berikan.“ (Juli 2013)

Testimonial dari Sophie, saudari di grup PW :

Hanny itu selalu berani bicara apa yang benar.  Suaranya sangat bersemangat dan keras, sehingga bagi orang yang belum kenal dia, akan mengira dia galak atau marah. Dia sangat pintar, dalam menilai sesuatu dia memiliki analisa dan pertimbangan yang sangat dalam dan detail.  Dalam bergaul, dia sangat loyal dan mengasihi dengan dalam, bukan setengah-setengah. Saya sangat menghargai kesetiaan dia kepada Tuhan, dalam sakitnya dia semakin dekat dan bersungguh-sungguh mengasihi Tuhan. (Agustus 2013)

Testimonial dari Aling :

“Saya pertama kali kenal Hanny kira-kira tahun 2005 di gereja. Waktu itu saya ketemu Hanny di rumahnya di Jelambar. Saya tanya,“Ci, boleh gak kalo bulan puasa saya jualan di depan rumah cici?” Hanny langsung memperbolehkan saya menaruh meja jualan di depan rumahnya. Bahkan saya dikasih pinjam kunci pagar rumah, wanti-wanti jika nanti saya kepanasan, saya bisa agak masuk sedikit jualannya.  Saya juga boleh pakai air di rumahnya. Saya sangat bersyukur, Hanny betul-betul mau membantu dan mengasihi saya. Akhirnya saya berjualan kolak di depan rumahnya setiap bulan puasa selama 3 tahun.

Sifat suka membantunya juga tidak hilang hingga dia menderita kanker. Pada tahun 2012, ketika saya pindah rumah, dia pun ikut membantu.  Begitu dia datang membantu saya pindahan dan melihat keadaan rumah saya, Hani langsung memberi masukan, ini kotor, ini harusnya begini begitu. Waktu mama saya ulang tahun, Hanny pun masih ikut membantu membuat nasi tumpeng. Ini harus ditaruh disini, harus tambah ini tambah itu. Anything should be perfect di mata Ci Hanny.  Jika saya membuatkan dia susu kacang, dia akan bicara terus terang.  Enak dia bilang enak, ga enak dia bilang ga enak.  Dia tidak memilih untuk bilang lumayan.

Setiap kali saya jenguk dia di rumah sakit, dia pasti mengingatkan saya, “Ling, kamu boleh kerjain apapun. Tapi yang paling penting, kamu jangan lupa berdoa dan quiet-time (saat teduh). Minta selalu sama Tuhan supaya apapun yang kamu lakukan tidak sia-sia.”  Hanny selalu berusaha untuk bisa doa dan membaca firman dengan keterbatasannya. (Agustus 2013)

Hubungan Hanny dengan keluarganya

Hanny selalu bekerja keras untuk memenuhi kebutuhan anaknya, dan tidak mudah menyerah.  Dari sejak bekerja di toko saudaranya atau jualan baju sampe dia bolak balik ke Hongkong, dia lakukan dengan sepenuh hati demi memberikan yang terbaik untuk anaknya. Mereka sudah beberapa kali pindah-pindah rumah.  Dia juga sangat tegas dalam mengajari anak-anaknya, sehingga kadang terlihat terlalu mengatur dan emosional di depan mereka. Karena terlalu bekerja keras, Hany kadang lupa untuk bergantung kepada Tuhan dan bersekutu dengan teman-teman di gereja.  Dia menjadi lebih fokus kepada pergumulan dia dalam pekerjaan dan mengasuh anaknya. Mungkin karena terlalu kuatir dan stress, Hany menjadi sering sakit. Rina adalah seorang saudari yang memperhatikan Hany dari sejak tahun 2007.  Saat itu Hany sering mengeluhkan sakit di pinggangnya dan sering masuk angin.  Dia mengatasinya dengan pergi ke tempat pijat dan minum obat penahan sakit. 

Divonis Kanker

Pada awal tahun 2009, Hanny memeriksakan dirinya di RS husada, dan dia dideteksi terkena kanker paru stadium 3B.  Dia pergi bolak balik ke Penang untuk menjalani kemoterapi dan terapi radiasi disana.  Hanny melewati masa-masa yang sangat menderita terutama pasca kemoterapi, tubuhnya menjadi sangat kurus dan rambutnya rontok.  Namun di masa-masa itulah Hanny berusaha mendekatkan diri lagi dengan Tuhan.  Di saat-saat kesakitan dia selalu berdoa kepada Tuhan dan membaca ayat Firman.  Mau tidak mau, kepada Tuhan saja Hanny berharap untuk disembuhkan, dan untuk beriman tetap mengasihi Tuhan dalam kondisi apapun.

Testimonial dari Rina

Setelah mengetahui kisah hidup Ci Hanny yang tidak mudah, banyak sekali kepahitan dan kekecewaan dalam hidupnya, saya mulai mengerti mengapa dia menjadi begitu independent dan keras dengan hidupnya. Saya bersyukur sekali bisa mengenal dia, seorang wanita yang begitu peduli dengan teman-temannya, penyayang dan sangat melayani terutama dalam memberikan makanan yang dia buat sendiri. Walaupun saya menjadi pembimbing Ci Hanny tapi saya merasa begitu dikasihi oleh Ci Hanny, hubungan kita menjadi semakin dekat seperti kakak dan adik, dan dia mengatakan pada semua orang kalau saya adalah “adik kesayangannya.” Ci Hanny pada saat itu tidak dekat dengan keluarganya karena merasa tidak enak selalu menyusahkan keluarganya, dia merasa banyak kegagalan dalam dirinya.  Ci Hanny kelihatan begitu kuat diluar tapi ternyata dia begitu rapuh di dalam hatinya. Dia mudah sekali menangis kalau menceritakan tentang dirinya dan masa lalunya. Dia sangat membutuhkan kasih sayang dari teman-temannya, makanya sering kali dia menjadi teman yang sangat “posesif”. Oleh karena itu dia selalu bilang “Rin, tolong ingatkan kalau saya mulai terlalu posesif dan mengatur ya…” Bagi saya dia adalah loveable cici…                                                               

Selama satu tahun dia tinggal bersama dengan saya di apartemen saya, dari sebelum dia sakit sampai dia sakit. Ci Hanny memberikan warna yang  berbeda dalam hidup saya dan adik saya. Karena adik saya dan saya sibuk jadi seringkali kita ketemu Ci Hanny di malam hari. Saya bisa ngobrol dengan Ci Hanny sampai tengah malam karena begitu banyak cerita yang dia mau ceritakan sampai-sampai seringkali saya tertidur karena sudah jam 2 pagi hahaha… Tetapi saya selalu antusias mendengarkan cerita yang ingin dia sampaikan. Banyak nasehat-nasehat yang dia sampaikan kepada saya. Dia selalu bilang,”Belajarya Rin dari pengalaman hidup saya yang buruk.”            

Alternative Pengobatan yang dilakukan

Kanker yang dia alami ternyata tidak bisa sembuh total.  Hanny juga tidak mampu untuk meneruskan kemoterapi karena tidak tahan dengan kesakitan yang harus dia tanggung lagi. Tahun 2010 dilakukan bone scan dan ternyata kankernya sudah menyebar ke tulang. Dokter menvonis umurnya hanya mampu bertahan hingga 6 bulan lagi.  Namun itu tidak membuat Hanny menyerah, dia selalu percaya kalau Tuhan akan membantu penyembuhan dia. Akhirnya dia mencoba berbagai pengobatan alternative di Tradisional Chinese medicine, terapi sinar, minum supplement, dan mengatur pola makan. Semangat hidupnya tidak luntur, dia masih memiliki banyak cita-cita dan bahkan keinginan untuk jalan-jalan jalan ke luar negeri.

Banyak waktu terbuang untuk menyembuhkan diri, Hanny juga ingin sekali lebih dekat dengan kedua anaknya. Tahun 2011 Hanny mengajak anaknya tinggal bersama.  Memang cara Hanny mengasihi anak-anaknya terkesan terlalu mengatur, padahal anaknya telah bertumbuh dewasa.  Banyak konflik dan tantangan yang terjadi dalam hubungan mereka. 

Bergabung dalam Group Precious Woman

Dari sejak tahun 2010, Hanny sudah mulai mengikuti kegiatan di group Precious Women di Gereja.  Dia sangat bersemangat saat itu dalam event menjual baju-baju untuk disumbangkan untuk misi gereja.  Ami, seorang saudari yang dulunya kurang begitu suka dengan Hanny, mulai menjadi lebih dekat dengan Hanny.  Ami mengingat ketika di akhir Desember 2011, Ami dan Ling Ling mengantar Hanny ke RSCM.  Saat itu kondisinya kurang bagus.  Susani segera menawarkan Hanny untuk tinggal di rumah Susani.  Akhirnya Hanny tinggal di rumah Susani selama satu tahun.  Hanny resmi bergabung di group PW sejak awal 2012.  Sejak saat itu, banyak teman-teman di group PW yang terlibat membantu Hanny dan membantu kerohanian dia. 

Testimonial dari Susani

Saya sangat bersyukur bisa mengenal Hanny lebih dekat sejak dia tinggal di rumah saya sejak Desember 2011 sampai 2012. Pada saat itu pun, tidak mudah bagi dia untuk setuju tinggal bersama saya. Dia itu bukan orang yang ingin menyusahkan orang lain walaupun sedang sakit. Kondisinya kurang bagus ketika tinggal di apartment bersama anak-anaknya. Sebenarnya Hanny ingin punya lebih banyak waktu bersama anak-anaknya.  Namun pada kenyataan nya, anak-anaknya sibuk bekerja dan Hanny lebih sering sendirian di apartment, sedangkan dia juga harus memasak dan memenuhi kebutuhannya sendiri.  Akhirnya saya menjemput dia di RSCM dan membawa dia ke rumah saya.

Selama dia tinggal di rumah saya, saya dan teman-teman group di Precious Woman (PW) bersyukur dapat merangkul dia lebih dalam lagi. Dia akhirnya memiliki komunitas dimana dia bisa share banyak hal dan bertumbuh di dalam imannya. Dia merasa begitu enjoy dan dikasihi. Bahkan bisa dibilang, dia lebih dekat dengan komunitas PW daripada dengan keluarganya sendiri. Dia sendiri juga menjadi suatu contoh yang luar biasa bagi kami, karena di dalam sakitnya, dia tetap peduli pada anggota-anggota group.  Ada saat ketika kondisi fisiknya kuat, dia masih bisa pergi bersama-sama grup untuk mengunjungi orang yang sakit, atau yang sedang kesulitan.

Sejak bergabung di group PW, Hanny juga menjadi lebih semangat.  Dia menjadi lebih real, ada sukacita, dan selalu berusaha berpartisipasi dalam kegiatan semampu dia. Banyak doa-doanya yang dikabulkan Tuhan. Tuhan menggunakan perjalanan hidup Hanny untuk memperlihatkan kasih karuniaNya yang begitu besar.  Hanny adalah seorang biasa yang banyak pergumulan, namun dia tetap bisa merasakan kebaikan Tuhan dalam hidup dia. Saat-saat terakhir dia, kami sangat bersyukur melihat dia terus berusaha menyiapkan hatinya untuk bertemu dengan Tuhan.

Hanny terus bertumbuh dalam imannya kepada Tuhan. Saya sering mendengar pagi-pagi dia sudah bangun, kemudian menyanyi dan berdoa kepada Tuhan. Sebagai orang yang sehat, saya benar-benar tersentuh. Ini adalah suatu hal yang luar biasa dari pertumbuhan imannya. Di dalam sakitnya, dia masih tetap memuji dan memuliakan Tuhan.

Meskipun dia sakit dan tidak berdaya, namun seorang Hanny tetaplah seorang Hanny. Dia pun masih merupakan orang yang independent. Segala sesuatu ada aturannya dan ada caranya. Aturan yang dia buat dengan standard-nya yang tinggi. Masaknya harus begini, cucinya harus seperti ini. Seringkali dia juga tidak mau makan makanan yang ada di rumah saya dan akhirnya dia memasak makanan untuk dia sendiri yang sesuai dengan standard-nya. Ujung-ujungnya dia jadi kerja sendiri juga. Terkadang, hal semacam inilah yang bikin saya nyeletuk dalam hati, ini orang gak mau makan, entar dia bisa mati bukan karena sakit kanker-nya, tapi karena malnutrisi.  Dia juga menyesal karena tidak menjadi ibu yang baik dan benar untuk kedua anak-anaknya.  Namun Hanny  terus berdoa, keinginan terbesarnya adalah anak-anaknya juga bisa menjadi seorang Kristen yang sungguh-sungguh. Doa Hanny dikabulkan oleh Tuhan, pada tahun 2012 Christopher dibaptis menjadi seorang Murid Yesus. 

Hanny juga ingin lebih dekat dengan keluarganya dan terlebih lagi, ia ingin supaya keluarganya juga dapat dimenangkan. Melihat kecenderungan Hanny yang tidak mau makan dan mau segala sesuatu berjalan dengan standard-nya, saya merasa sudah saatnya Hanny kembali ke keluarganya dan merasakan perhatian dari keluarganya. Awalnya Hanny tidak mau karena dia merasa sudah terlalu banyak merepotkan keluaraganya. Akhirnya, kami memutuskan untuk bicara dengan keluarganya. Saya berpikir merekalah yang perlu tahu mengenai keadaan Hanny dan apa yang dia butuhkan. Keluarganya senang dan Hanny akhirnya tinggal di rumah adiknya, Susan.  Christopher sudah terlebih dahulu tinggal di sana dan akhirnya Chris yang banyak mengurusi mamanya. Hanny yang tadinya berjuang untuk lebih dekat dengan keluarganya, diberkati Tuhan dengan perhatian dari anak-anaknya dan saudara-saudaranya di akhir hidup dia.  Sebuah hal yang dulu dia impikan, diberikan oleh Tuhan ketika dia sudah berserah total.

Testimonial dari Christopher

Bagi aku, mami adalah sesosok orang yang tegas. Kalau dia bilang A ya A, B ya B. Tidak bisa berubah-ubah. Seseeorang yang keras dan tidak suka dibantah. Tetapi, selama sakitnya, mami adalah orang yang sabar. Yang bikin aku kagum, dia enggak pernah mengeluh. Sesakit apapun yang dia rasakan, dia tidak pernah mengeluh. Meskipun dia butuh apa-apa di malam hari, dia tidak pernah bangunin anaknya. Dia tidak pernah bangunin aku. Tetapi karena aku orangnya sentisif terhadap suara, jadi begitu ada suara sedikit, aku pasti langsung bangun. Dan aku langsung tanya, mami ada butuh apa.

Kalo mami udah gak tahan, dia paling cuma bilang, “Mami sakit banget. Mami udah tidak tahan.” Tapi tidak pernah sekalipun dia teriak-teriak mengeluh tentang penyakitnya. Mami adalah orang yang sangat tegar dan kuat. Padahal dia yang sakit, tetapi malah dia yang kuatin anak-anaknya. Dia juga menguatkan orang-orang yang datang menjenguk dia. She is the best mom ever. Dia adalah orang yang sangat kuat. Dia diam bukan berarti dia enggak merasa sakit, dia kesakitan banget dan aku tahu itu. Hanya saya dia memilih untuk tidak mengeluh.

Meskipun dia sering marahin aku, tapi aku tahu sebenernya mami care banget sama aku. Dia kuatir sama aku. Sampai aku harus bilang sama mami, “Mi, gak usah kuatir sama aku.” Dia enggak kuatir sama Grace, dia sangat kuatir sama aku.

Aku masih ingat, di malam terakhir mami sebelum meninggal, mami masih suruh aku untuk habisin kue karena dia bisa habisin semuanya. Aku kan pulang kerja udah malem dan mami udah tidur sebenarnya, tapi dia bangun cuma untuk suruh aku habisin kue.

Aku juga bersyukur aku masih bisa kasih waktu buat mami di saat-saat terakhirnya. Aku masih bisa kerja freelance dan masih bisa bantu mami juga. Aku senang bisa menemani mami di saat-saat terakhirnya, karena memang cuma itu yang bisa aku berikan buat dia.

 

Kesan pribadi dari aku sendiri tentang Hanny

Hanny adalah seorang single parent yang tangguh dan tidak mudah menyerah dengan keadaan.  Semua orang yang mengenal dia akan mengenalnya sebagai seseorang yang berambisius, namun juga giving dan mau peduli kepada orang lain. Dalam kesakitan yang dia derita, justru dia melihat banyak mukjizat yang Tuhan berikan.

Aku mengunjungi Ci Hanny terakhir kali waktu sebulan sebelum dia meninggal. Saat itu dia kelihatan segar, tersenyum dan dia bisa bicara cukup banyak.    Kadang-kadang ada cerita hidupnya yang dia sudah lupa (obat-obatan yang dia minum berefek kepada daya ingatnya) namun dia masih bisa bikin joke yang menjadi ciri khasnya. Dia merasa sangat bersyukur kepada Tuhan, karena lewat sakitnya itulah dia bisa menjadi lebih dekat dan bergantung kepada Tuhan.  Dia juga merasa bersyukur karena di akhir hidupnya dia merasa lebih dekat dengan anaknya dan dengan keluarganya. 

Ketika saya mengumpulkan cerita ini, saya tersentuh melihat bagaimana Tuhan bekerja lewat hidupnya. Hanny bukan seorang yang sempurna, dia memiliki banyak kelemahan yang sangat dia sadari.  Aku dapat melihat begitu luar biasa kasih Tuhan di dalam hidup Hanny.  Dari seseorang yang keras, diubahkan menjadi berserah dan beriman.  Dari seseorang yang pahit, diubahkan menjadi damai dan sukacita.  Dari seseorang yang merasa gagal, diberikan kesempatan untuk membuat akhir hidupnya menjadi berarti dan menjadi inspirasi untuk banyak orang.

Mazmur 116:15 Berharga di mata Tuhan, kematian semua orang yang dikasihiNya.

Tanggal 13 September 2013 di pagi hari, Ci Hanny menghembuskan nafas terakhirnya di rumah adiknya (Usia 53 tahun).  Kami semua bersedih karena kehilangan seseorang yang special dan kami kasihi.  Namun aku tahu, bahwa Tuhan lah yang paling mengasihi Hanny, dan Hanny telah berpulang ke tempat terbaik yang disediakan Tuhan baginya. Selamat jalan Hanny… we love you and we’ll never forget you.

 

~ Memperingati 100 Hari Kepergian Ci Hanny (22 Desember 2013) ~

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s