Trip to Sumatera Utara 23-27 Januari 2013

PARAPAT – TOBA – SAMOSIR

Finally kesampaian juga ke danau toba! (hampir ga jadi karena beberapa hari sebelumnya kompleks rumah kami kena banjir di Jakarta, thank God kami bisa pergi untuk merayakan anniversary pernikahan kami ke 5). 

And this lake is actually very huge… panjang sekitar 100 km dan lebarnya 30km waoww…. inilah danau terbesar di Asia Tenggara. Dari tempat aku menginap sekarang, Toledo Inn di Kampung Tuk Tuk di pulau Samosir, memandang danau seperti memandang ke lautan luas yg tak berujung. Ciptaaan Tuhan yang luar biasa!

Sejauh mata memandang, tidak kelihatan ujung dari danau toba

Sejauh mata memandang, tidak kelihatan ujung dari danau toba

Perjalanan dimulai dari bandara Polonia Medan jam 8 pagi. Kami memakai jasa Narasindo Tour untuk mengantar kami ke Parapat. Pak Saito, sopir sekaligus guide kami, ternyata orang Jawa, tapi menguasai seluk beluk sumatera utara karena lahir di sini. Karena kami belum sarapan, Pak Saito membawa kami ke rumah makan Tabona di jl mangkubumi. Tempatnya tidak terlalu besar, namun cukup ramai. Ada 2 menu yg ditawarkan, kari ayam atau sapi dengan bihun atau nasi, dan mie pangsit. Kami pesan kari ayam bihun dan mie pangsit. Total harganya 47rb. Rasanya lumayan.. Katanya ini salah satu rumah makan kari yang terkenal di medan. Gagal deh food combining ku hri ini, karena biasanya aku selalu makan buah untuk sarapan. Mudah2an perutku ga protes hehehe.. Katanya orang Medan punya kebiasaan makan berat utk sarapan, makan kari atau soto. Wah…(ga mau ikutannn..)

Habis sarapan, kami langsung tancap gas menuju Parapat, supaya bisa keburu ngejar/ naik kapal fery jam 2. Perjalanan dari kota Medan menuju ke arah selatan melewati Tebing Tinggi, perkebunan karet PTPN yang sangat luas, hingga ke Pematang Siantar. Sopir membawa kami ke toko Paten yang menjual cemilan kacang-kacangan. Uniknya, nama makanan nya lucu banget. Ada Tang-Tang, Ting-Ting, Tung-Tung, Teng-Teng, dan Tong-Tong. Satu pak harganya 20rb. Kami beli 1 paket berisi 8 jenis kacang, harganya 160rb. Untuk oleh-oleh saja…

Setelah makan siang di sebuah restoran padang, kami segera melanjutkan perjalanan. Kami pun tiba di Parapat jam 2 kurang, pas ketika kapal fery sedang menuju dermaga Parapat. Wah… langsung kagum melihat pemandangan danau toba dari dermaga Parapat. Namun sayangnya, keadaan perkampungan di sekitar Parapat kelihatan agak semrawut, dan memang diakui juga oleh sopir kami, hal ini yang tidak serius dirapikan dari sejak dulu. Jalanan yang rusak, rumah-rumah penduduk yang agak kumuh, dan penjual vcd yang suaranya berisik banget… membuat kami tidak betah menunggu di dermaga.

Ada 2 kapal fery, tapi hanya satu yang beroperasi, karena penumpangnya tidak terlalu banyak. Kapal ini bisa memuat sekitar 20 mobil. Biaya penyebrangan 90rb per mobil, kata sopir. Ada beberapa orang berjualan telur, dan beberapa anak yang meminta para penumpang untuk melempar koin ke danau. Anak2 disini pada pintar lompat indah dan renang…

Seorang anak sedang terjun ke danau untuk mencari koin yang dilempar pengunjung

Seorang anak terjun ke danau untuk mencari uang koin yang dilempar pengunjung

Sungguh damai rasanya di atas kapal fery menyusuri Danau Toba hingga ke Samosir.  Ujungnya hampir tidak kelihatan, airnya biru seperti laut, namun rasanya tawar.  Pemandangan bukit hijau di sekeliling danau sangat indah. Perjalanan sekitar 45 menit tidak terasa lama, malah rasanya masih kurang lama untuk menikmati pemandangan danau ini. Pulau Samosir, yamg terletak di tengah-tengah danau,  juga berukuran sangat besar, dengan perbukitan hijau yang meneduhkan. Cuaca langit yang cerah membuat mata ini benar-benar dipuaskan.

Pulau Samosir

Pulau Samosir

Feri mendekat ke dermaga samosir

Feri mendekat ke dermaga samosir

Dermaga di Samosir

Dermaga di Samosir

Kapal berlabuh di dermaga Kampung Tomok. Situasi di dermaga ini juga mirip seperti di Parapat, agak kurang rapi. Tidak jauh dari dermaga, ada sebuah situs Makam Raja Batak yang terbuat dari batu, yang usianya sudah ratusan tahun.  Raja Batak adalah sebutan untuk leluhur/ nenek moyang orang Batak yang dihormati, jadi bukan dalam arti kerajaan. Di sini juga terdapat toko-toko souvenir.

Setelah itu kami melewati Kampung Ambarita. Di sini kami melihat peninggalan sebuah kampung kecil yiatu Huta Siallagan.  Kampung ini dikelilingi tembok batu tersusun rapi setinggi 2mtr. Terdapat beberapa rumah adat Batak yang sudah berusia ratusan tahun. Rumah adat ini berbentuk rumah panggung, dengan bagian bawah biasanya dipakai untuk kandang hewan peliharaan.  Jadi kalau mau masuk, kita harus naik tangga di bagian tengah depan. Di dalam nya tidak ada sekat, hanya ada beberapa perabotan dan tungku untuk memasak.  Agak sempit juga, gimana ya jaman dulu 1 rumah begini bisa dihuni oleh hingga 4 keluarga.

Huta Siallagan - kampung ambarita

Rumah Adat Batak

Rumah Adat Batak

Di tengah kampung terdapat sebuah pohon besar, lalu ada juga 2  kelompok susunan kursi dan meja yang terbuat dari batu.  Kelompok batu pertama disebut Batu Kursi Pengadilan, inilah tempat pertemuan raja-raja dan untuk memutuskan suatu perkara kejahatan. Kelompok batu kedua digunakan untuk eksekusi mati (pemenggalan kepala) bagi penjahat yang sudah diputuskan.

Batu Kursi Persidangan

Batu Kursi Persidangan

Dari Ambarita, kami melanjutkan ke Kampung Tuk Tuk.  Di sinilah hotel tempat kami menginap, di Toledo Inn.  Ternyata banyak sekali rumah penduduk di sekitar hotel ini yang disewakan sebagai Guest House. Kabarnya banyak turis Eropa yang senang berlibur lama-lama di Samosir, sehingga bisa tinggal di guest house yang lebih murah. 

Kamar hotel Toledo Inn fasilitasnya hanya spring bed standar, meja, tv, dan kamar mandi. Kamar bahkan tanpa AC karena udaranya sudah cukup dingin.  Namun kami bisa melihat pemandangan toba di depan kamar.  Akhirnya kami menghabiskan sore dengan menfoto pemandangan di sekitar hotel. Kalau mau nyobain berenang di air danau, bisa juga… karena hotel memiliki kolam renang yang airnya menyatu dengan danau.  Banyak ikan2 kecil di tepi danau.

Hotel Toledo Inn

Hotel Toledo Inn

Tepian Hotel Toledo Inn

bridge @ Toledo Inn

bridge @ Toledo Inn

Pemandangan yg romantis dan udara yang segar membuat banyak wisatawan menginap disini. Sebagian besar turis luar yang datang berasal dari Eropa, terutama Belanda dan Denmark. Setelah itu, baru disusul oleh turis dari Malaysia. Sekian laporan di hari pertama, happy bisa menikmati danau toba.

PARAPAT – SIMALUNGUN

Hari kedua trip kami… sarapan dari hotel diberikan pilihan roti bakar, nasi goreng, atau mie goreng. Aku bertanya,apakah ada buah potong? Dan katanya ada. Kita memilih buah potong dan roti bakar. Lumayan… tidak terlalu berat. Jam 9 kami harus check out, karena mau naik fery jam 10. Enggan rasanya meninggalkan Toledo inn, tapi sopir mengatakan kami akan melihat pemandangan Toba dari arah bukit yang lain. Karena perjalanan kami ke arah Brastagi akan mengelilingi bukit di sekitar Toba. Dan ternyata memang benar. Setelah menyebrang ke Parapat, rute kami menanjak naik ke bukit yang lebih tinggi. Jalan nya sangat kecil dan agak berbahaya. di sebelah kanan bukit yang beresiko longsor terutama jika di musim hujan, di sebelah kiri jurang dengan view danau toba. Kami berhenti di beberapa titik untuk mengambil foto toba dari sisi yang berlawanan dengan sisi parapat dan samosir. Banyak sekali view yang indah di sepanjang perjalanan. Inilah beberapa foto Danau Toba yang kami ambil dari feri dan bukit-bukit yang mengarah ke Simar Jarunjung (salah satu bukit tertinggi, suhunya dinginnn bangettt)

Toba view

Toba view

toba5

toba view

toba view

toba view from SimarJarunjung

toba view from SimarJarunjung

Kami berhenti sebentar di Bukit SimarJarunjung untuk merasakan dingin nya hawa…brrr…. hanya 10 menit saja kami bertahan lalu segera masuk mobil dan melanjutkan perjalanan hehehe…

Melewati daerah Pematang Purba Simalungun, kami singgah di Rumah Bolon. Rumah Bolon ini adalah rumah adat Batak yang dulu dipakai oleh Raja-Raja Purba dan keluarganya.

Rumah Bolon Pematang Purba

Rumah Bolon Pematang Purba

Rumah Bolon

Rumah Bolon

rumah bolon3

Di dalam rumah Bolon hanya ada sedikit perabotan dan tungku perapian

Tungku perapian

Tungku perapian

Di bagian dalam Rumah Bolon, ada 12 tungku untuk tempat memasak. Menurut cerita rakyat, setiap tungku digunakan oleh satu istri raja. Pada jaman Raja Purba XII, raja memiliki 12 istri yang tinggal di dalam 1 rumah.   Para istri raja hanya tidur di atas selembar tikar yang digelar di sisi perapian. Satu dapur dengan dapur lainnya tidak memiliki sekat. Raja sendiri hanya memiliki satu kamar tidur sempit dengan selembar tikar di dalamnya. Bila sang raja ingin bersama salah satu istrinya, dia akan meminta ajudan nya memanggil sang istri tersebut untuk datang ke kamar raja. Namun pada jaman Raja Purba XIII, raja hanya beristri satu orang, karena beliau sudah menganut agama kristen.

AIR TERJUN SIPISO – PISO

Next destination : air terjun Sipiso-piso. Lama perjalanan dari Parapat ke air terjun ini sekitar 3 jam (mungkin karena banyak berhenti yaa). Air terjun ini terletak di kabupaten Karo, sudah bukan Toba lagi. Tapi dari parkiran mobil kita bisa melihat 2 pemandangan sekaligus; danau toba di sebelah kiri, dan air terjun di sebelah kanan. Keren banget!

Danau Toba masih bisa terlihat dari air terjun Sipiso-Piso

Di sebelah kiri kita bisa melihat Danau Toba

Air Terjun Sipiso-piso

di sebelah kanan kita bisa melihat Air Terjun Sipiso-piso

Air terjun ini bentuknya sangat runcing seperti pisau, air dari puncak langsung jatuh ke dasar. Ketinggian nya sekitar 120mtr. Jika kita mau turun hingga ke dasar air terjun ini, butuh waktu 45menit utk menuruni ratusan anak tangga. Turun nya mungkin ga terlalu berasa, tapi waktu balik/naiknya butuh waktu dua kali lipat, karena butuh tenaga extra. Akhirnya kami cuma turun ke sepertiga perjalanan saja hanya untuk mengambil view sampai ke dasarnya. Pemandangan yg indah, sayang banyak sampah di anak-anak tangganya. Padahal, menurut saya sangat mudah untuk menaruh tong sampah di situ supaya orang tidak sembarangan membuang bungkusan makanan.

sipiso piso2

seger ya kalo bisa turun ke bawah dan nyobain airnya…

tangga sipiso piso

tangga sipiso piso

BERASTAGI

Setelah satu jam di air terjun, kami lanjut ke tujuan terakhir, Berastagi. Dari danau kita pergi ke gunung. Berastagi ini merupakan wilayah Batak Karo,  udaranya lebih dingin daripada di Toba.

Hotel Sinabung Hills. Kamarnya lebih bagus dibandingkan di parapat, ranjangnya juga lebih empuk, dan makan malam juga lebih banyak menu dan lebih enak. Hotel ini juga memiliki kolam renang dan taman2 yang tertata rapi. Namun kekurangan nya adalah view gunung sinabung dan gunung sibaya tertutup banyak pohon.

Sinabung Hills Hotel

Sinabung Hills Hotel

sinabung2

DAY 3 – BERASTAGI KE MEDAN

Bangun jam 6.30 pagi dan rasanya mau tetap tenggelam di dalam selimut karena udara yang sangat dingin, namun ketika kami keluar ke balkon kamar utk melihat pemandangan pagi, Joni langsung mengambil kamera dan memotret. Paduan sinar matahari pagi, pegunungan sinabung, selimut awan putih, dan pepohonan cemara sungguh mengagumkan. Aku langsung teringat kpd pemazmur yg berkata “langit menceritakan kemuliaan Allah…” kami segera mengambil waktu utk berdoa memuji kebesaran Tuhan.

Sunrise view from Hotel Sinabung

Sunrise view from Hotel Sinabung

Sehabis sarapan, kami naik ke kawasan yang lebih tinggi hanya berjarak 10 menit dari hotel, namanya Bukit Gundaling. Dari bukit ini, kami bisa menikmati pemandangan kota brastagi dan Gunung. Di satu sisi kami melihat Gunung Sinabung, di sisi yang lain ada Gunung Sibaya. Gunung Sibaya kelihatan lebih dekat jaraknya drpd Sinabung. The view is amazing. Udara dingin terbayar dengan melihat pemandangan ini.

Gunung Sinabung

Gunung Sinabung

Gunung Sibaya

Gunung Sibaya

Dari Bukit Gundaling, kami turun ke kawasan Pasar Buah Berastagi. Buah2nya sungguh menggiurkan.. jeruk dengan berbagai ukuran, wortel, salak, kesemek, manggis, alpukat, dan mangga mungil… aku tidak menemukan buah impor disini (udah melimpah boo..) Duh, berharap di pasar-pasar di Jakarta bisa dibanjiri buah lokal seperti di pasar brastagi ini…biasanya kalau sudah sampai Jakarta, harganya sudah mahal dan buahnya sudah jelek.

Pasar Buah Berastagi

Pasar Buah Berastagi

Setelah belanja jeruk, kami turun ke kota Berastagi. Ada 2 bangunan unik yang kami kunjungi di sini. Pertama adalah Gereja Katolik St Fransiskus, yang arsitekturnya menyerupai rumah adat batak,dan masih terdapat tanduk kerbau di ujung2 atapnya. Kebetulan sedang ada acara pernikahan, sehingga kami tidak bisa masuk ke dalam.

Gereja St Fransiskus

Gereja St Fransiskus

Tempat kedua adalah Taman Alam Lumbini. Selain taman bunga yang asri terdapat disini, bangunan utamanya adalah vihara untuk umat budhis, yang dibangun bergaya Myanmar. Bangunan ini sangat ngejreng karena semua dinding luarnya dicat warna kuning emas. Ditambah sinar matahari yg terik, joni kesulitan utk memotret bangunan ini dari luar, karena sangat silau. Vihara ini ramai dikunjungi oleh umat budhis dari Medan, terutama jika ada acara perayaan.

Vihara di Taman Alam Lumbini

Vihara di Taman Alam Lumbini

Taman Alam Lumbini

Taman Alam Lumbini

Kami melanjutkan perjalanan ke Medan melalui Sibolangit. Perjalanan ini agak membuatku pusing. Jalannya berkelok-kelok dengan tikungan patah menuruni tebing, untunglah sopir kami sudah menguasai jalanan dan menyetir dgn cukup ahli.

MEDAN

Sore harinya kami sampai di Medan.  Sebelum kembali ke hotel, Sopir membawa kami mampir di sebuah gedung unik di Taman Sakura Indah, sebuah Gereja Katolik dgn arsitektur seperti kuil di india. Graha Maria Annai Velangkanni. Exterior maupun interior penuh dgn berbagai ornamen yang diambil dari cerita kitab suci. Cerita penciptaan hingga diusirnya adam dan hawa, dan cerita penyaliban Yesus. Gereja ini diresmikan pada thn 2005. Semua warna dan bentuknya memiliki arti tersendiri. Cukup unik, namun aku kurang tertarik dengan cerita peristiwa2 supranatural seputar pembangunan gedung ini, yang dibagikan lewat flyer.

Graha Maria Annai Velangkanni

Graha Maria Annai Velangkanni

Kami juga mengunjungi Istana Maimun. Bangunan bersejarah ini merupakan salah satu warisan budaya Melayu yang didesain oleh arsitek Negeri Pizza dan selesai pada 25 Agustus 1888 M di masa kekuasaan Sultan Deli, Makmun Al-Rasyid Perkasa Alamsyah. Sultan Makmun sendiri adalah putra sulung Sultan Mahmud Perkasa Alam, pendiri kota Medan. Desain nya cukup unik, karena merupakan perpaduan antar budaya Islam dan Eropa.

Istana Maimun peninggalan Kerajaan Deli

Istana Maimun peninggalan Kerajaan Deli

 KULINER MEDAN

Kami menginap di hotel swiss belinn di jalan surabaya. Alasan nya supaya gampang untuk cari chinese food di Jalan Semarang dan Selat Panjang. Tapi kami kurang puas menginap di hotel ini, karena tidak ada sistem kedap suara.. area lobinya mempunyai void hingga lantai atas. Malam pertama aku ga bisa tidur karena bisa mendengar suara orang berjalan, bahkan bunyi printer dotmatrik dari lantai lobby (padahal aku di kamar lantai 7). Akhirnya malam kedua kami minta pindah ke lantai 9 dan kamar yang pojok, yah lumayan lebih tenang.

Dari pintu belakang hotel, kami langsung bisa menemukan berbagai chinese food di Jln Selat Panjang. Jalan SP ini kecil, karena semua yang jualan mengambil sisi tepi jalan. Situasinya mirip seperti di Pasar Pluit yang menjual makanan Medan di malam hari.  Berbagai chinese food (non halal) yang bisa dipilih seperti Nasi Hainam, Bakmie Tiong Sim, bubur, Bakmi Hokkien, Es campur, bakpao, kue2, dan martabak. Kami mencoba Nasi Ayam SP 10 dan bakmie Tiong Sim. Lucunya, harga kedua makanan sama 26rb/porsi (janjian kali yah?). Bakminya enakk. Nasi ayam biasa saja.

Bakmi Tiong Sim di Jalan Selat Panjang

Bakmi Tiong Sim di Jalan Selat Panjang

Mie Hokkien ini juga ramai, namun kami sudah kenyang hehehe...

Mie Hokkien ini juga ramai, namun kami sudah kenyang hehehe…

Martabak Piring Murni

kalo nyobain Martabak Piring Murni masih bisa lah… cara bikin nya unik, pakai piring..

Hari ke 4, kami sudah membuat janji utk bertemu teman lama, Kosyono dan Lena. Mereka teman satu grup kami ketika masih sama2 di grup kampus GKDI. Mereka mengajak kami makan siang di 31 Pare House di kompleks Cemara Asri. Menu special nya adalah Ikan pari saos pedas dan terong goreng.  Selain itu kami memesan sop bakso, ayam goreng, dan cah asparagus. Semuanya maknyuss. Recommended!

31 Pare House Medan

31 Pare House Medan di Kompleks Cemara Asri

Spend time dengan Kosyono Lena

Spend time dengan Kosyono Lena

Untuk makan malam, kami nyobain Kwetiau Ateng di jl S. Parman (non halal) mau kwetiau atau bihun, sama enaknya. Pake telur bebek, daging b2 dan udang (wah, kacau deh dietku hehehe…gpp lah.. rekreasional saja). Harganya 30rb.

Bihun Goreng di Kwetiau Ateng, maknyusss

Bihun Goreng di Kwetiau Ateng, maknyusss

Masih dibawa jalan-jalan seputar kota Medan… btw lalin di sini sama kacaunya seperti di Jakarta. Sopir-sopir angkot merajai jalanan dan bunyi klakson dimana-mana. Aku perhatikan hampir semua ruko di jalanan mempunya papan nama/ reklame yang dibuat menjorok ke luar ruko, sehingga pusing deh liatin papan nama yang begitu banyak.. sangat tidak rapi. Tampaknya pemda Medan tidak memperdulikan masalah ini, entahlah.. kata temanku, birokrasi disini sangat buruk, segala urusan harus keluar uang. Apalagi berkaitan dengan urusan bisnis. Hal ini membuat banyak orang berbisnis dengan memakai segala cara supaya bisa untung. Mudah-mudahan hal ini bisa berubah ya suatu hari.

Kembali ke kuliner, kami pindah ke Restoran Tip Top di Jln Kesawan. Restoran ini memang salah satu restoran paling terkenal di Medan. Di bagian teras restoran, semua kursi sudah penuh.. bahkan ada antrian. Ada band yang membawakan lagu-lagu (sepertinya lagu jaman dulu, karena aku ga tau semua lagunya).  Kami terpaksa duduk di ruangan bagian dalam.

Makan ice cream di tip top

Makan ice cream di tip top, pesan 4 macam, total 75rb

Menunya cukup banyak, ada makanan indonesia, chinese, dan western. Tapi yang terkenal adalah kue dan ice cream nya.  Katanya semua kue dibuat secara tradisional dengan tungku kayu bakar.  Aku pesan Markoop, kue yang di atasnya ada vanila ice cream dan ada lelehan coklatnya. Rasanya tidak terlalu manis.  Resto yang terletak beberapa meter dari Tjong A Fie Mansion ini masih mewarisi gaya cafe gaya Eropa, sehingga gemar didatangi turis asing.

Hari ke 5, kami bersemangat untuk kebaktian di GKDI Medan. Letaknya di Plaza Milenium lantai 6. Aku bersyukur bisa melihat perpaduan orang chinese dan orang batak di dalam Gereja kami, karena hingga saat ini hubungan antara keduanya aku dengar masih kurang baik di Medan. 

Setelah kebaktian kami makan siang bersama Asen dan Yoan.  Lalu ikut Leaders Meeting.  Setelah itu kami dibawa makan durennnn.  Masih ada waktu 1 jam sebelum ke airport. Sebenarnya banyak yang jualan duren di pinggir jalan, tapi katanya yang paling bagus itu Durian Ucok. Tapi sayang waktu kami sampai disana jam 4, durian yg kemarin sudah habis.. dan yang baru masih belum sampai.  Akhirnya kami makan durian di tempat lain hehehe. tak apalah… aku juga uda lamaa sekali ga pernah makan duren.

Durian Medan

Durian Medan

Begitulah perjalanan kami 5 hari selama di Sumatera Utara, sangat berkesan dan mudah-mudahan kami bisa datang lagi.. thanks buat Narasindo Tour, Kosyono Lena, dan Asen Yoan. Sampai ketemu lagi ya….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s