EXODUS; life of Moses

Tokoh utama dalam Keluaran adalah Musa. Dari antara semua tokoh di Alkitab, Musa adalah tokoh yang paling byk mempengaruhi aku. Dalam beberapa hal aku merasa mirip dengan Musa dan bisa mengerti keadaan yg harus dia hadapi. Nama Musa tercantum dalam 31 buku di alkitab. Dia adalah seorang nabi dan pemimpin. Tapi terutama, dia adalah org yg pertama kali diberikan hukum2 Tuhan, yang dia ajarkan kembali ke israel.

Hidup Musa terbagi atas 3 seri (kalau difilm-kan)

Seri 1, kelahirannya hingga besar di istana. Sungguh hal yang lucu untuk dibayangkan, sementara firaun membunuh semua bayi laki2 israel, Musa sendiri dengan keberanian orangtuanya dapat diselamatkan dan akhirnya diasuh oleh putri firaun. Bayangkan ketika ibunya menceritakan sejarah kelahiran nya, dan dia melihat bahwa tidak ada laki2 bangsa israel yang betul2 seusia dengan dia saat itu. Dia satu2 nya yang berhasil lolos! Bukan hanya lolos, tapi dia menjadi calon penguasa Mesir! Apakah istana firaun mengetahui bahwa Musa adalah org israel? Dan jika mereka tahu, bagaimana mereka bersikap terhadap Musa? Kita tidak tau banyak soal bagaimana kehidupan Musa di istana. Tapi satu hal yang aku yakin, ada hal yang mengganggu pikiran nya, yaitu ttg bangsanya yg ditindas Mesir. “Bangsaku menjadi budak dan menderita, sedangkan aku hidup enak sendiri di istana, apa yang seharusnya kulakukan?” Itulah alasan kenapa Musa sampai membunuh org Mesir. Mungkin saat itu idealisme nya masih tinggi dan berani melakukan apa saja.

Mengingat kembali hidupku, masa SD hingga SMP adalah masa seperti Musa hidup di istana. Keluarga yang cukup mampu, punya banyak teman dan menjadi pemimpin setiap kegiatan sekolah, idealisme tinggi untuk melakukan banyak hal, berprestasi dengan mudah, sementara hatiku kosong bertanya-tanya apakah kehendak Tuhan dalam hidupku. Pernahkah kita merasa seperti Musa? Kita merasa punya segalanya, kecuali mengetahui hal apa yg perlu kita lakukan untuk membuat kehdupan yg lebih berarti?

Seri 2,menjadi pelarian di Midian

Sungguh perubahan hidup yang drastis. Hidup 40 thn di istana, tiba-tiba harus menjadi seorang pelarian. Keadaan di Midian yang kering dan terpencil sangat bertolak belakang dengan keadaan di Mesir. Musa “direndahkan” menjadi orang biasa, bahkan menjadi org yg tidak dikenal, hanya seorang gembala. Menarik bahwa Tuhan mempertemukan dia dgn keluarga Yitro dan menghabiskan waktu 40 thn berikutnya di padang pasir. Mungkin dia merasa itulah akhir hidup dia. Dia akan mati disana. Tanpa dia tahu bahwa Tuhan justru sedang melatihnya. Pengalaman hidupnya di padang pasir adalah bekal untuk memimpin bangsa israel nantinya. Tercatat bahwa keluarga nya (Zipora istrinya dan Yitro mertuanya) turut terlibat dalam 2 hal penting, yaitu waktu sunatan anaknya dan waktu mendelegasikan tugas pemimpin.

Pelajaran ini sungguh berarti buatku, terutama ketika aku dihadapkan dengan situasi yang buruk, yang membosankan, sepertinya tidak ada hal2 bagus terjadi, atau ketika sedang down. Aku teringat ketika menjadi murid Yesus, hidupku harus berubah dengan drastis. Aku harus berhadapan dengan keluargaku yang menentang. Aku harus melepaskan beberapa hal yang aku miliki. Aku harus bertobat dari kesombongan dan keegoisan dan dosa lainnya. Aku seperti berada di padang pasir dan menjadi orang asing. Penolakan yang aku hadapi dari orang2 di sekelilingku membuatku down. Tapi disisi lain tanpa aku sadari, sebenarnya Tuhan sedang mengajari aku untuk bergantung kepada Dia dan rendah hati. Kejadian seperti ini terulang ketika aku mulai kuliah, masuk jurusan TI membuatku harus belajar lebih keras. Aku selalu dapet ranking di sekolah, tapi di kuliah nilaiku jeblok di semester2 awal. Aku hampir memutuskan untuk pindah jurusan. Aku teringat menangis seharian di kos temanku Diana setelah menerima hasil semester. Tapi ternyata kegagalan itu membuatku belajar lebih byk hal dan lebih bertekun. Pada akhirnya aku bisa lulus dgn ipk 2,99. Sedikit lagi mencapai 3. Tapi aku bersyukur karena angka itu membuatku mengingat bagaimana Tuhan selalu ingin aku rendah hati, bergantung sama Dia, bukan bergantung dgn pengalaman dan kekuatan sendiri.

Seri 3, Menjadi Pemimpin Israel

Sekarang Musa sudah berumur 80 thn. Apa yang kita pikirkan ketika kita sudah 80 thn? Masih berpikir ttg impian? Masih berpikir akan hal-hal besar? Yang pasti kita cuma bisa bersyukur masih bisa hidup, hehehe. Tapi buat Tuhan, Musa justru baru akan mulai menjalankan tugasnya. Rencana Tuhan sungguh tidak terduga. Sekali lagi Tuhan mengubahkan hidup Musa. Mertua Musa adalah seorang imam, tapi ga jelas beribadah ke siapa. Apakah Musa beribadah kepada Tuhan juga ga jelas. Jadi perlu kejadian supernatural untuk menarik perhatian Musa kembali mengingat ttg Tuhan.

Walaupun Musa memberikan berbagai alasan, akhirnya dia menerima “tawaran pekerjaan” itu. 40 Thn berikutnya, Musa memberikan hatinya utk memimpin Israel. Kita tau apa yg terjadi pada akhirnya, Musa sendiri tidak dapat masuk ke tanah perjanjian itu karena 1 kesalahan.

Dalam bbrp hari ini aku mendapat “tawaran pekerjaan” yang baru. Hal yang sebelumnya tidak terpikirkan olehku, diminta membangun dan mengelola swalayan perabotan rumah tangga milik orangtuaku untuk 5 tahun ke depan. Bukan hanya jenis pekerjaan dan tanggung jawab yg sangat besar, namun juga lokasinya di luar Jakarta. Aku berpikir, apakah ini adalah seri hidupku selanjutnya? Bagaimana aku harus meresponnya? Mampukah aku melakukan yg terbaik untuk bisnis yang baru ini? Bagaimana jika aku harus pindah kesana? Sejenak aku teringat kepada Musa, bagaimana dia merespon setiap perubahan yang terjadi dalam hidupnya. Stress, tapi dia mengerti bahwa ini bukan bangsanya, ini adalah bangsanya Tuhan. Beban, tapi belajar untuk patuh dan setia sampai akhir. Aku tidak pernah tau apa hal berikutnya yg akan terjadi. Tapi yg pasti, setiap kesempatan yg datang, aku perlu melakukan yg terbaik. Pada akhirnya baru aku bisa melihat hal yg Tuhan rencanakan.

the LORD would speak to Moses face to face, as a man speaks with his friend.” (Ex 33:11)

Aku sangat tertusuk dan terkejut dengan ayat ini, karena Musa menganggap (ingat bahwa ini adalah tulisan Musa) Tuhan adalah sahabatnya. Sebaliknya juga bahwa Tuhan menganggap Musa adalah sahabatNya. Waow! Bisakah kita hari ini seperti Musa? Satu tantangan buat kita hari ini yg tidak bisa melihat Tuhan secara langsung, apakah kita dapat membangun hubungan yg dalam dengan Tuhan? Apakah setiap hari kita bicara dan mendengarkan Tuhan bicara? Apakah kita adalah sahabatNya Tuhan?


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s