Paulus; ketika disanjung dan dianiaya

Kisah Para Rasul 14:8-20
14:8 Di Listra ada seorang yang duduk saja, karena lemah kakinya dan lumpuh sejak ia dilahirkan dan belum pernah dapat berjalan.
14:9 Ia duduk mendengarkan, ketika Paulus berbicara. Dan Paulus menatap dia dan melihat, bahwa ia beriman dan dapat disembuhkan.
14:10 Lalu kata Paulus dengan suara nyaring: “Berdirilah tegak di atas kakimu!” Dan orang itu melonjak berdiri, lalu berjalan kian ke mari.
14:11 Ketika orang banyak melihat apa yang telah diperbuat Paulus, mereka itu berseru dalam bahasa Likaonia: “Dewa-dewa telah turun ke tengah-tengah kita dalam rupa manusia.”
14:12 Barnabas mereka sebut Zeus dan Paulus mereka sebut Hermes, karena ia yang berbicara.
14:13 Maka datanglah imam dewa Zeus, yang kuilnya terletak di luar kota, membawa lembu-lembu jantan dan karangan-karangan bunga ke pintu gerbang kota untuk mempersembahkan korban bersama-sama dengan orang banyak kepada rasul-rasul itu.

Dalam 1 pasal di Kis 14 terdapat 2 keadaan yang begitu kontradiktif.  Di ayat-ayat awal mengisahkan bagaimana Paulus dan Barnabas dianggap sebagai “dewa” sehingga orang-orang di Listra membawa persembahan kepada mereka.  Tapi hanya dalam beberapa ayat berikutnya terjadi hal yang sangat tragis.

14:18 Walaupun rasul-rasul itu berkata demikian, namun hampir-hampir tidak dapat mereka mencegah orang banyak mempersembahkan korban kepada mereka.
14:19 Tetapi datanglah orang-orang Yahudi dari Antiokhia dan Ikonium dan mereka membujuk orang banyak itu memihak mereka. Lalu mereka melempari Paulus dengan batu dan menyeretnya ke luar kota, karena mereka menyangka, bahwa ia telah mati.
14:20 Akan tetapi ketika murid-murid itu berdiri mengelilingi dia, bangkitlah ia lalu masuk ke dalam kota. Keesokan harinya berangkatlah ia bersama-sama dengan Barnabas ke Derbe.

Karena hasutan dari orang yahudi dari Antiokhia dan Ikonium, penduduk Listra berbalik menganiaya Paulus, merajam dia hingga hampir dikira sudah mati.  Bisa kita bayangkan bagaimana keadaan orang yang kelihatan sudah mati?  Jadi Paulus sebelumnya disanjung bagai dewa, dan tidak lama kemudian dianiaya sampai hampir mati.

Hal yang aku terinspirasi dari Paulus adalah

~ Pada saat sesuatu yang kita lakukan berhasil dan kita disanjung bagai dewa, apakah kita merasa bangga dengan diri kita atau kita memberikan kredit itu kepada Tuhan?  Apa kita bergantung kepada kehebatan kita sendiri dan lupa akan penyertaan Tuhan?  Hari ini kenyamanan dan kesuksesan lebih mudah membawa orang jauh dari Tuhan daripada masalah dan kegagalan. Bagaimana ketika keadaan lagi bagus, apakah kita sudah merasa puas dan tidak perlu melakukan banyak hal lagi untuk Tuhan?

~ Sebaliknya ketika keyakinan kita membuat kita harus menderita, apakah yang akan kita lakukan? Keyakinan Paulus tentang Kristus membuat dia menganggap pengorbanan dia itu sepertinya “tidak apa-apa”.  Dirajam sampai hampir mati, tidak membuat nyali Paulus hilang, malah ia masih kembali ke Listra, Antiokhia, dan Ikonium untuk menasehati murid2 (ayat 21-22).  Ketika aku menonton film-film action, sering ada adegan penyiksaan kepada seseorang dengan tujuan orang itu menyerah dan memberitahukan infromasi penting yang diinginkan penyiksa.  Tampaknya aniaya adalah cara yang efektif untuk membuat seseorang menyerah, karena rasa sakit yang sangat besar.  Tapi kalau kita lihat Paulus, apa yang lebih penting daripada nyawanya?  Tujuan yang lebih penting daripada hidupnya adalah Kristus, sehingga dia selalu mendapatkan kembali kekuatan untuk meneruskan pekerjaan nya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s