Mengatur Keuangan dalam Pernikahan

Beberapa hari ini aku terlibat dalam membantu temanku yang akan menikah.  Bukan hanya sebagai WO untuk hari H nya, tapi juga belajar memberikan konseling mengenai hubungan dalam pernikahan.  Salah satunya adalah dalam keuangan.  Keuangan adalah isyu yang sangat penting dalam pernikahan, banyak hari ini pasangan yang berantem karena soal uang.  AKu bersyukur sampai saat ini belum pernah berantem karena masalah uang, tapi aku lebih bersyukur lagi di dalam lingkungan gereja ku ada pembimbingan juga dalam hal ini yg membuat aku lebih mengerti.

Ketika 2 orang berbeda menikah, pasti mereka memiliki pikiran, latar belakang, pandangan dan cara berbeda dalam mengurusi keuangan.  Apalagi jika masing2 memiliki pendapatan dan pengeluaran secara mandiri.  Dalam pernikahan, pasangan mesti menggabungkan pendapatan mereka dan bekerja sama mengatur keuangan.  Tentu ini hal yang tidak mudah bagi pasangan yang sebelumnya bebas mengatur keuangan pribadi.  Ini kuncinya : KETERBUKAAN dan DISKUSI.

Prinsip secara praktisnya adalah :

  • Terbuka dengan pendapatan masing-masing, karena itulah yang akan membangun kepercayaan dan rasa aman bagi pasangan.  Terbuka akan pengaturan keuangan masing2 yg selama ini dijalanin.
  • Tentukan siapa yang akan mengatur keuangan pernikahan.  Entah suami atau istri, yg pasti lihat dari bagaimana selama ini dia yang lebih baik mengatur keuangan pribadi.  Kecendrungan suami lebih bisa mengontrol pengeluaran karena dia yang bertanggung jawab atas mencukupi kebutuhan rumah tangga, tetapi bisa saja kalau istrinya yang lebih teliti menggunakan uang.
  • Pisakahkan antara keuangan untuk pekerjaan/modal usaha dengan keuangan rumah tangga.  Kalau masing-masing punya toko/usaha sendiri,  masing2 harus menggunakan sistem gaji, bukan dengan sistem laci (pengeluaran pribadi ambil langsung dari laci toko).
  • Buatlah catatan keuangan rumah tangga maupun keuangan usaha, walaupun sederhana tapi akan sangat membantu dalam kontrol; berapa pendapatan yang didapat dan berapa biaya yang harus dikeluarkan.
  • Masukkan gaji suami istri dalam 1 rekening/kas untuk keperluan rumah tangga, lalu buat kesepakatan bersama, siapa yang akan membayar urusan rumah tangga dan tagihan-tagihan, siapa yang membayar anak dan kebutuhan lainnya.
  • Pengeluaran biasanya dibagi atas pengeluaran tetap ( cicilan/sewa rumah, tagihan listrik dsb ), pengeluaran makan dan rumah tangga lainnya ( belanja sayur, beli sabun dsb ), keperluan pribadi ( baju, bensin, hp ), keperluan anak, dan tabungan.  Bagilah pengeluaran dari yang prioritas terutama hingga pengeluaran yang kurang penting, sehingga bisa ditentukan estimasi pengeluaran dan tidak over budget.
  • Diskusikan pengeluaran yang tidak termasuk dalam pengeluaran tetap, misalnya mau membeli furniture baru.  Jangan beli sendiri, tapi beli sama-sama dan putuskan sama-sama.  Bisa terjadi saling menyalahkan/konflik karena penggunaan uang dgn jumlah besar tanpa disetujui bersama.  Bukan cuma soal harga tapi juga mengenai kegunaan barang tersebut yang mungkin ternyata tidak diperlukan oleh pasangan nya.
  • Walaupun keputusan akhirnya adalah suami yang menentukan, namun semua keputusan perlu dicapai dengan cara diskusi.  Dengan pandangan yg berbeda itulah, pasangan akan belajar mencari keputusan yg terbaik.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s