Menghadapi Raksasa

1 Sam 17, Daud dan Goliat

Selama 40 hari, apa yang dianggap “PERANG” oleh Ayah Daud dan mungkin oleh seluruh bangsa Israel, sebenarnya adalah hanya sekedar “mendengarkan ejekan dan cemoohan dari goliat”.

Kadang-kadang secara rohani, kita kelihatan sedang berperang melawan dosa atau pergumulan, padahal sebenarnya kita sedang dalam status quo. Kita tidak suka dalam keadaan buruk, tapi yang kita hadapi cuma “Raksasa Kenyamanan”.

Semua orang memiliki raksasa nya masing-masing, tapi bagaimana sikap Daud menghadapi raksasa?

  • Melihat dari perspektif Tuhan. Israel melihat Goliat sebagai Raksasa dan tidak dapat dikalahkan, termasuk oleh Saul. Daud melihatnya berbeda, goliat adalah lambang dari musuh ALLAH yang Hidup. Bagaimana pandangan kita melihat tantangan/dosa? Apakah kita bertanya dari segi kemampuan kita atau bertanya dari sudut pandang Tuhan ?
  • Belajar dari pengalaman, dan percaya bahwa tangan TUhan lah yang selalu menyelamatkan. Daud tidak pernah menghadapi raksasa, tapi dia belajar waktu menjaga domba dia juga menghadapi byk bahaya, tapi TUhan lah yang selalu menyelamatkan dia. Dan utk goliat pun, dia tidak ragu bahwa TUhan akan melakukan hal yang sama. Beriman kepada Tuhan, lebih penting daripada skill yang kita punya. Ketika kita menghadapi masalah baru, kita harus melihat ke belakang, menyadari bagaimana TUhan bekerja di masa lalu, dan percaya utk sekarng pun Dia tetap akan bekerja. Apakah kamu mencari solusi dengan Alkitab atau dengan pemikiran kita sendiri?
  • Bergantung total kepada Tuhan. Daud tidak punya peralatan yang canggih. Dia menggunakan apa yg biasanya dia pakai, dan bergantung total kepada TUhan. Apakah alasan kita hari ini untuk tidak memberi? karena kita insecure (membandingkan diri dgn org lain)? apapun kelemahan kita, justru TUhan ingin bekerja dalam kelemahan kita.

(khotbah Harliem Salim, Minggu 13 April 2008)

Buat gua sendiri, ini adalah salah satu cerita favorit gua di Alkitab dan sering gua baca. Memang benar di dalam diri gua kadang2 hidup Raksasa Kenyamanan, terutama jika tidak menjaga hubungan dgn Tuhan. Kesibukan lebih gampang membuat gua lupa memprioritaskan TUhan sehingga ketika datang masalah, gua menghadapi itu dgn stress dan tidak bergantung sama TUhan lagi.

Saat ini gua sedang menghadapi tantangan beban pekerjaan yang cukup berat, bermalam-malam tidak bisa tidur nyenyak dan otak sudah cape berpikir. TUhan pasti punya rencana lain untuk hidup gua dan gua mesti positif menghadapi semua ini. Melihat ke belakang, gua pernah stress dalam kuliah gua dan sangat bergumul di dalam kampus, tapi berkat Tuhan, gua bisa lulus dgn nilai baik. Apa yang gua anggap impossible, DIA tunjukan bahwa Dia akan menyelamatkan selama gua terus mencari dan bergantung sama DIA. Kali ini, gua harus menyelesaikan masalah yang berat, tapi gua juga ingin beriman dan bergantung kepada DIA.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s