Huangshan kudu wajib didatangi kalo kita ke China! Syaratnya, masih kuat berjalan kaki naik turun tangga sejauh 2-6 jam (tergantung rute yang diambil). Jika tidak kuat, lupakan saja… tapi boleh juga jika anda hanya sekedar naik cable train lalu langsung turun dengan cable train lagi. Jadi ga ada mendaki sama sekali. Tapi ga seru ah..
Kami pergi ke Huangshan ikut tour lokal dari Yiwu. Biayanya sekitar 700rb/orang. Dari Yiwu kami melewati kota Jinhua, lalu masuk ke kota Huangshan di provinsi Anhui (perjalanan sekitar 4 jam). Pemandangan dari Jinhua ke Huangshan indahhhhh bangetttt, sampe mata rasanya segar terus dan selalu ingin memotret. Di sepanjang kiri kanan jalan tol (jalan tol nya bagus, baru dibangun dengan tiang pancang yang tingi-tinggi) terdapat perbukitan hijau dan lembah. Banyak melewati terowongan yang dibuat dengan menembus perbukitan. Kira2 ada 30-an jumlah terowongan yang kami lewati. Wow! Infrastruktur yang luar biasa! (lagi2, pliz jgn dibandingin sama indo yak!)
Sampai di kota Huangshan, kami singgah di Kota Lama (Tunxi Ancient Street). Tempat wisata pejalan kaki ini dipenuhi oleh cafe dan toko suvenir. Yang unik adalah semua bangunan disini sudah berusia ratusan tahun. Persis seperti bangunan di jalan-jalan yang sering kita lihat di film2 silat. Tempat ini memang sering dipakai untuk syuting film silat.
Habis makan siang di sini, kami segera menuju pegunungan Huangshan. Sampai di tempat perhentian bis, kami pindah ke bis khusus dari pengelola, untuk membawa kami ke stasiun kereta gantung (cable train). Ada 2 pilihan bagi turis untuk menikmati alam disini. Pertama, dengan naik cable train. Kedua, berjalan kaki mendaki ke puncak.
Naiknya pake cable train aja, turun nya baru jalan kaki…mendingan capenya di belakang aja.. Gw ngajuin usul sebelum yang lain mau naik jalan kaki. Maklum, si joni dulu pendaki gunung, sebaliknya gw males banget hiking… pinggang bisa pegel banget hehehe. padahal, gw juga rada parno berada di ketinggian… takut cable train nya putus, wah gimana tuh… akhir hidup gw. Bayar cable trainnya 90 yuan/ org.
Kata tour guide, kami masih harus berjalan kaki dari halte cable train di atas menuju puncak dan hotel. Beberapa anggota rombongan yang membawa koper terpaksa meninggalkan kopernya di mobil. Tapi karena gw pikir jaraknya mungkin ga terlalu jauh dan malas bongkar koper, gw dan joni tetap membawa koper kita. koper kita yang warna merah nih..
Satu kereta cukup untuk kita ber-8, dan kita uda siap2 in kamera dan video cam. waktu mulai naik, wah… kelihatan hutan2 yang rimbun. Semakin naik.. mulai kelihatan gunung-gunung batu yang guede dan buanyak banget… Semakin tinggi, omg… gw uda deg-deg an karena belum nyampe2 juga.. kita semua di dalam train juga deg2 an hahaha…kapan nyampenya nih..?? di satu sisi senang bgt ngeliat pemandangan, di sisi lain ketakutan jg karena semakin tinggi dan semakin tinggi… tapi dalam hati, untung milih naik cable train. kalo jalan kaki, kapan nyampenya ya ke atas ..?
Setelah deg-degan selama 20 menit, akhirnya kami sampai di halte yang di atas. Udara terasa sejuk, dan sinar mentari tidak terlalu menyengat. Jika kita tidak suka musim dingin, bulan september – november paling tepat untuk datang kesini. Tapi jika kita ingin melihat salju (dan tahan dingin yaa), bulan Des- Jan pegunungan ini biasanya diselimuti salju. Tapi jika musim dingin, belum tentu kita bisa dengan mudah mendaki pegunungan ini karena licin dan kemungkinan badai.
Dari halte ini kami ternyata perlu mendaki untuk sampai di hotel. Salut dengan pemerintah China yang membuat ribuan anak tangga untuk menyusuri pegunungan ini. Awal-awal jalan sih gw semangat banget, karena pemandangan disini betul2 keren. Pantas, pegunungan ini menjadi inspirasi dari film Avatar.
Nah, karena barang kita cukup banyak, kita bagi tugas.. gw yg bawa tas kamera dan minuman, dan joni yg mesti bawa koper merah kita… huhuhuhu menyesal deh bawa koper, mestinya hanya bawa ransel saja.. karena berat bgt jalan sampe bawa koper.. sampe pada diliatin orang2..
Perjalanan terasa menyulitkan terutama gw yg ga suka jalan kaki… setiap kali ada titip perhentian gw pasti berhenti untuk menarik napas.. dan tentunya foto2 lagi. Dari setiap titik perhentian memiliki view yang bagus, karena jumlah gunungnya banyak banget disini. Teringat gw kepada mazmur Daud “The Lord is my rock!” dan tak henti2 nya rasa kagum sama Tuhan karena melihat gunung2 raksasa ini. HuangShan telah dijadikan Situs Warisan Dunia oleh UNESCO tahun 1990.
Selain keindahan alam disini, perawatan tempat ini juga membuat gw sangat kagum. Di daerah ini dilarang merokok, dan tidak ada sampah berserakan. Betul2 bersih dan terawat. Padahal banyak orang berjualan makanan di setiap perhentian. Turisnya juga membludak. Gw harus menjaga kecepatan supaya jangan ketinggalan dengan rombongan yang lain, karena banyak sekali rombongan tur disini. Kalau ketinggalan rombongan gawat deh, malah ga tau jalan pulang.. Joni terus memberi semangat sama gw. Banyak juga orang yang bawa tongkat (di dekat stasiun kereta banyak dijual tongkat tapi karena merasa tidak butuh, gw ga beli). Padahal, perlu banget.. ada satu kali gw berhenti di tengah tanjakan, dan ada orang yang menawarkan tongkatnya sama gw untuk membantu gw mendaki… gw kira dia ga mau lagi tongkatnya, ternyata dia cuma minjamin sampe puncak tanjakan saja hehehe… sie-sie ya..
Setelah berjuang selama hampir 3jam…akhirnya kami sampai di White Goose Hotel. Akhirnyaaaaa….. disini udaranya lebih dingin. Capenya ampunnn… tak terasa kita ternyata sudah berada di atas awan. Satu hal lagi yang gw suka, bisa menikmati sunset di sini… wah awesome banget dah…
Namanya hotel di atas gunung, pasti mahal ya.. tapi boleh dong ngarepin yang kasurnya enak.. tau sendiri badan uda cape setengah mati. Tapi ternyata kamar yang kami dapat seperti barak, 8 orang sempit2 an di dalam 1 kamar. Kasurnya pun ala kadarnya… mesti dialasi selimut supaya punggung ga merasakan kayunya.. berusaha ga komplain, kami lebih baik tertawa karena tidak bisa mendapatkan kamar yang lain… coba tebak harga kamarnya berapa? hampir 1jt semalam…busyett.. (mesti tetap bersyukur, amin..)
Biaya tur sudah termasuk harga kamar ini, tapi makan malam harus bayar sendiri. Menu yang tersedia tidak banyak, kami hanya bisa memesan sayuran dan sup ayam. Mestinya bawa pop mie lebih enak nih daripada di restoran nya hehehe…ya sudahlah. Habis mandi dan makan, try to sleep on the “comfort bed”, zzzz… (pengen bangun pagi2 untuk liat sunrise)
Gak bisa bangun karena cape…akhirnya batal deh liat sunrise pagi-pagi (seharusnya jam 5). Ya sudahlah, gw uda pernah liat sunrise di bromo. Tapi luar biasa banget ya disini, bisa melihat sunset dan sunrise, saking tingginya. Setelah mandi seadanya dan sarapan dengan telur rebus dan bakpao (oh ya, disini byk yang jualan telur rebus), rombongan kita check out…
Perjalanan untuk kembali ke train station tidak sama dengan perjalanan waktu datang.. rutenya berbeda. Jadi masih banyak pemandangan yang bisa dilihat. Joni harus kembali membawa bag nya. Jalanan bukan langsung menurun, tapi tetap banyak naik nya.. mudah2 an rute pulang ini ga terlalu jauh ya…
tapi belum sebanding dengan orang2 yang bekerja mengangkut bahan makanan ke atas gunung.. bisa berapa kali tuh naik turun dalam sehari..? seperti sedang latihan kungfu aja…
Nah, gimana jika kita uda merasa gak kuat lagi di tengah perjalanan mendaki ini..? Jgn kuatir, ada juga pengangkut orang tenaga orang.. tinggal duduk di kursi, diangkut, tapi gw sih ngeliatnya ngeri ya.. apalagi jika melewati naikan yang agak terjal.. bayarannya tentu mahal banget, dihitung dari titik A ke titik B. Minimal 100rb.
Rute pulang ini ternyata lebih “curam” daripada rute datang. Sambil menikmati pemandangan, kita harus berhati-hati dengan jalan yang sempit atau curam, tanpa ada pegangan di sampingnya.
Setelah menempuh perjalanan 2 jam lebih… cable train nya sudah kelihatan! wahh senang bgt krn sudah berakhir, tapi juga merasa sayang karena belum tentu bisa kesini lagi.. oh ya, kalo yang masih kuat, bisa berjalan hingga ke bawah sekali tanpa cable train. Rencana awal kita yang ingin turun jalan kaki ternyata batall.. gw sudah tidak kuat lagi hehehehe…
kali ini jarak turun nya lebih pendek, sekitar 15 menit. Tapi tetap saja terasa deg2-an hehehe… thank God kita bisa sampai dengan selamat. Di sini terdapat tourist center yg menyediakan berbagai informasi seputar huangshan.
Kirain uda nyampe di tempat bis, eh ternyata belum… bis belum bisa naik kesini karena jalan nya lagi diperbaiki.. ya musti jalan lagi deh..
End of journey in Huangshan mountain… setelah makan siang, kami kembali ke kota Yiwu
Beberapa Tips buat turis yang mau mendaki Huangshan :
~ Pergi pada musim panas/semi adalah waktu terbaik, kecuali anda ingin melihat salju pada musim dingin. Tapi menurut gw, ga ada salju aja uda sulit, apalagi jika bersalju, pasti licin dan berbahaya. Apalagi jika ada badai salju.
~ Pake baju dan sepatu yang tepat untuk mendaki, dan bawalah ransel dengan perlengkapan secukupnya, supaya tidak membebankan pendakian.
~ Lebih enak memang menginap semalam di hotel2 yg terdapat disana jika anda ingin melihat sunset dan sunrise (jika ikut tur lokal), tapi harga makanan sgt mahal dan kurang enak, lebih baik bawa pop mie aja heheheh…
~ Jika tidak mau menginap, pilihlah rute yang tidak terlalu panjang, sehingga cukup waktu untuk naik dan turun. Lebih baik mengajak seorang tur guide lokal yang bisa bhs inggris jika anda tidak mau bergabung dengan keramaian tur. Karena terus terang, ikut tur rame-rame itu cukup berisik buat gw.
~ Biaya utk cable train; 80 yuan / sekali naik. Gunakan ini jika tidak ingin terlalu cape ketika naik/turun
~ Peralatan wajib; video/kamera yang bagus + memory card yang besar, anda tidak akan kehabisan tempat untuk berfoto. Topi + sunglass + suncream kalau ga tahan sinar matahari. Jaket jika anda tidak tahan dingin, karena pada saat malam cukup dingin.
~ Belilah tongkat yang banyak dijual di bawah sebelum pendakian, itu akan membantu
Shall not forget this amazing trip!
















































