Shopping at Beijing Lu, Guangzhou

Guangzhou, dulu disebut Canton, adalah ibukota dari provinsi Kuantung yang berada di China selatan.  Kota ini merupakan salah satu kota terbesar di China yang katanya sebanding dengan kota Los Angeles.  Jumlah penduduk yang sangat banyak terlihat dari jalan-jalan yang macet.  Walaupun macet, sistem transportasi nya sudah sangat maju.  Selain Bus Rapid Transit yang teratur dan kereta api canggih, disini juga ada Metro Subway. Kami nyobain naik Metro Subway untuk pergi ke Beijing Lu (Beijing Road).  Dan inilah suasana di bawah tanah; penuh dengan orang-orang, apalagi ditambah dengan pertokoan di sepanjang stasiun bawah tanah ini, seakan-akan kita sedang berada di mal.

Suasana pertokoan di Metro Subway

Metro menjadi sarana transportasi utama di Guangzhou

Naik Metro disini sama seperti naik busway di Jkt ramenya, orangnya sampe bejubel… tapi walaupun berdiri karena ga dapet tempat duduk, perjalanan hanya beberapa menit, dan harganya murah pula, 2-5 yuan. Ngarepin kapan ya bisa naik mrt di jakarta…

Tempat wisata yang ada di Guangzhou kebanyakan adalah bangunan-bangunan bersejarah dan taman-taman.  Tapi disini adalah surganya belanja.  Kami menginap di daerah Tianhe, dan di sekitar hotel banyak sekali pedestrian mal.  Ada 2 lokasi pedestrian shopping yang paling terkenal, yaitu Shang xia jiu lu dan Beijing lu. Jika di Shang xia Jiu Lu lebih banyak bangunan-bangunan kuno karena lebih dulu dibangun, maka di Beijing Lu terasa lebih moderen.  Kami akhirnya pergi ke Beijing Lu, karena katanya orang Indo lebih suka pergi kesana.

Perempatan di dekat Beijing Lu

Uniknya di Beijing lu, kita bisa berbelanja di toko-toko yang Branded, atau ke toko-toko tradisional yang pake tawar menawar. Tapi ketika kami masuk ke toko-toko yang tradisional, harga barang-barang disana sangat mahal, padahal barang-barangnya ditempeli merek bajakan.  Tips jika ingin berbelanja disini, lihatlah ke beberapa toko dulu sebelum memutuskan untuk membeli.  Dan tawarlah hingga setengah harga, dari harga yang diberikan pertama kali.  Gw yang pusing kalo belanja dengan tawar menawar (ditambah dengan para pemilik toko yang kurang ramah jika kita menawar), akhirnya memilih pergi ke toko-toko yang branded tapi lagi SALE.  Hmm.. menurutku harganya hanya “sedikit” lebih murah daripada di Jkt.

toko tradisional dan branded bercampur di Beijing Lu

Makan di sekitar Beijing Lu lebih enak daripada makan di kota-kota lain yang kami pergi.  Katanya memang makanan di Guangzhou paling enak di antara di kota-kota lain nya.  Sore harinya kami pergi ke sungai Pearl River.  Dibandingkan dengan Shanghai, pemandangan di Shanghai lebih bagus sih.

Kita bisa berjalan-jalan di tepi sungai Pearl River yang teduh

Suasana di depan Tee Mal di jalan Tianhe

Sebenarnya masih banyak tempat yang bisa dikunjungi di Guangzhou seperti Yuexiu Park, Chen Clan Academy, Chime Long Paradise, Canton Tower, dll tapi sayangnya kami tidak punya banyak waktu lagi disini.  Next time kalau pergi lagi kesini, gw mau ke tempat wisata aja deh… pegel jalan kaki di pedestrian street hehehe. Pulang ke Indo, yang pengen gw lakukan adalah belajar bhs mandarin.. mudah2an terus termotivasi hehehe.

 

 

Unforgettable trip in HuangShan China

Huangshan kudu wajib didatangi kalo kita ke China! Syaratnya, masih kuat berjalan kaki naik turun tangga sejauh 2-6 jam (tergantung rute yang diambil). Jika tidak kuat, lupakan saja… tapi boleh juga jika anda hanya sekedar naik cable train lalu langsung turun dengan cable train lagi. Jadi ga ada mendaki sama sekali. Tapi ga seru ah..

Kami pergi ke Huangshan ikut tour lokal dari Yiwu. Biayanya sekitar 700rb/orang. Dari Yiwu kami melewati kota Jinhua, lalu masuk ke kota Huangshan di provinsi Anhui (perjalanan sekitar 4 jam). Pemandangan dari Jinhua ke Huangshan indahhhhh bangetttt, sampe mata rasanya segar terus dan selalu ingin memotret. Di sepanjang kiri kanan jalan tol (jalan tol nya bagus, baru dibangun dengan tiang pancang yang tingi-tinggi) terdapat perbukitan hijau dan lembah. Banyak melewati terowongan yang dibuat dengan menembus perbukitan. Kira2 ada 30-an jumlah terowongan yang kami lewati. Wow! Infrastruktur yang luar biasa! (lagi2, pliz jgn dibandingin sama indo yak!)

view di sepanjang jalan tol

terowongan yang menembus bukit

Di dalam terowongan

Sampai di kota Huangshan, kami singgah di Kota Lama (Tunxi Ancient Street). Tempat wisata pejalan kaki ini dipenuhi oleh cafe dan toko suvenir. Yang unik adalah semua bangunan disini sudah berusia ratusan tahun.  Persis seperti bangunan di jalan-jalan yang sering kita lihat di film2 silat.  Tempat ini memang sering dipakai untuk syuting film silat.

sebuah toko di kota lama Tunxi

bangunan nya kuno banget

bareng teman dari Yiwu

Habis makan siang di sini, kami segera menuju pegunungan Huangshan. Sampai di tempat perhentian bis, kami pindah ke bis khusus dari pengelola, untuk membawa kami ke stasiun kereta gantung (cable train). Ada 2 pilihan bagi turis untuk menikmati alam disini. Pertama, dengan naik cable train.  Kedua, berjalan kaki mendaki ke puncak.

Naiknya pake cable train aja, turun nya baru jalan kaki…mendingan capenya di belakang aja..   Gw ngajuin usul sebelum yang lain mau naik jalan kaki.  Maklum, si joni dulu pendaki gunung, sebaliknya gw males banget hiking… pinggang bisa pegel banget hehehe.  padahal, gw juga rada parno berada di ketinggian… takut cable train nya putus, wah gimana tuh… akhir hidup gw.  Bayar cable trainnya 90 yuan/ org.

Kata tour guide, kami masih harus berjalan kaki dari halte cable train di atas menuju puncak dan hotel.  Beberapa anggota rombongan yang membawa koper terpaksa meninggalkan kopernya di mobil.  Tapi karena gw pikir jaraknya mungkin ga terlalu jauh dan malas bongkar koper, gw dan joni tetap membawa koper kita. koper kita yang warna merah nih..

foto dulu sebelum naik cable train

Satu kereta cukup untuk kita ber-8, dan kita uda siap2 in kamera dan video cam.  waktu mulai naik, wah… kelihatan hutan2 yang rimbun.  Semakin naik..  mulai kelihatan gunung-gunung batu yang guede dan buanyak banget…  Semakin tinggi, omg… gw uda deg-deg an karena belum nyampe2 juga..  kita semua di dalam train juga deg2 an hahaha…kapan nyampenya nih..??  di satu sisi senang bgt ngeliat pemandangan, di sisi lain ketakutan jg karena semakin tinggi dan semakin tinggi… tapi dalam hati, untung milih naik cable train.  kalo jalan kaki, kapan nyampenya ya ke atas ..?

train nya cukup banyak, cable nya dua arah naik dan turun

view arah naik, wah tinggi bangetttt...

menyeramkan sekaligus memuji kebesaran ciptaan Tuhan

higher and higher...

kabut dan awan diantara gunung2

Setelah deg-degan selama 20 menit, akhirnya kami sampai di halte yang di atas.  Udara terasa sejuk, dan sinar mentari tidak terlalu menyengat.  Jika kita tidak suka musim dingin, bulan september – november paling tepat untuk datang kesini.  Tapi jika kita ingin melihat salju (dan tahan dingin yaa), bulan Des- Jan pegunungan ini biasanya diselimuti salju.  Tapi jika musim dingin, belum tentu kita bisa dengan mudah mendaki pegunungan ini karena licin dan kemungkinan badai.

Dari halte ini kami ternyata perlu mendaki untuk sampai di hotel.  Salut dengan pemerintah China yang membuat ribuan anak tangga untuk menyusuri pegunungan ini.  Awal-awal jalan sih gw semangat banget, karena pemandangan disini betul2 keren. Pantas, pegunungan ini menjadi inspirasi dari film Avatar.

ribuan anak tangga bahkan lebih... siap2 untuk olahraga betis!

joni ga kalah semangat karena uda lama ga hiking gunung

Nah, karena barang kita cukup banyak, kita bagi tugas.. gw yg bawa tas kamera dan minuman, dan joni yg mesti bawa koper merah kita… huhuhuhu menyesal deh bawa koper, mestinya hanya bawa ransel saja.. karena berat bgt jalan sampe bawa koper.. sampe pada diliatin orang2..

joni tetap senyum walaupun beban bawa koper

Perjalanan terasa menyulitkan terutama gw yg ga suka jalan kaki… setiap kali ada titip perhentian gw pasti berhenti untuk menarik napas.. dan tentunya foto2 lagi.  Dari setiap titik perhentian memiliki view yang bagus, karena jumlah gunungnya banyak banget disini.  Teringat gw kepada mazmur Daud “The Lord is my rock!” dan tak henti2 nya rasa kagum sama Tuhan karena melihat gunung2 raksasa ini.  HuangShan telah dijadikan Situs Warisan Dunia oleh UNESCO tahun 1990.

salah satu titik perhentian

pohon tusam yang paling banyak tumbuh disini

Selain keindahan alam disini, perawatan tempat ini juga membuat gw sangat kagum.  Di daerah ini dilarang merokok, dan tidak ada sampah berserakan. Betul2 bersih dan terawat.  Padahal banyak orang berjualan makanan di setiap perhentian.  Turisnya juga membludak.  Gw harus menjaga kecepatan supaya jangan ketinggalan dengan rombongan yang lain, karena banyak sekali rombongan tur disini.  Kalau ketinggalan rombongan gawat deh, malah ga tau jalan pulang..  Joni terus memberi semangat sama gw.  Banyak juga orang yang bawa tongkat (di dekat stasiun kereta banyak dijual tongkat tapi karena merasa tidak butuh, gw ga beli).  Padahal, perlu banget.. ada satu kali gw berhenti di tengah tanjakan, dan ada orang yang menawarkan tongkatnya sama gw untuk membantu gw mendaki… gw kira dia ga mau lagi tongkatnya, ternyata dia cuma minjamin sampe puncak tanjakan saja hehehe… sie-sie ya..

berkabut

seandainya gw beli tongkat!

Setelah berjuang selama hampir 3jam…akhirnya kami sampai di White Goose Hotel. Akhirnyaaaaa….. disini udaranya lebih dingin. Capenya ampunnn… tak terasa kita ternyata sudah berada di atas awan.  Satu hal lagi yang gw suka, bisa menikmati sunset di sini… wah awesome banget dah…

akhirnya sampe juga,thank God...duh niat bgt yg bangun hotel disini ya?

perfect place to watch the beautiful sunset

yah, kami memang berada di atas awan...

Namanya hotel di atas gunung, pasti mahal ya.. tapi boleh dong ngarepin yang kasurnya enak.. tau sendiri badan uda cape setengah mati.  Tapi ternyata kamar yang kami dapat seperti barak, 8 orang sempit2 an di dalam 1 kamar. Kasurnya pun ala kadarnya… mesti dialasi selimut supaya punggung ga merasakan kayunya..  berusaha ga komplain, kami lebih baik tertawa karena tidak bisa mendapatkan kamar yang lain… coba tebak harga kamarnya berapa? hampir 1jt semalam…busyett.. (mesti tetap bersyukur, amin..)

berusaha tetap tertawa dengan kamar seperti ini heheheh...

Biaya tur sudah termasuk harga kamar ini, tapi makan malam harus bayar sendiri.  Menu yang tersedia tidak banyak, kami hanya bisa memesan sayuran dan sup ayam.  Mestinya bawa pop mie lebih enak nih daripada di restoran nya hehehe…ya sudahlah.  Habis mandi dan makan, try to sleep on the “comfort bed”,  zzzz… (pengen bangun pagi2 untuk liat sunrise)

morning!

Gak bisa bangun karena cape…akhirnya batal deh liat sunrise pagi-pagi (seharusnya jam 5).  Ya sudahlah, gw uda pernah liat sunrise di bromo.  Tapi luar biasa banget ya disini, bisa melihat sunset dan sunrise, saking tingginya.  Setelah mandi seadanya dan sarapan dengan telur rebus dan bakpao (oh ya, disini byk yang jualan telur rebus), rombongan kita check out…

Perjalanan untuk kembali ke train station tidak sama dengan perjalanan waktu datang.. rutenya berbeda.  Jadi masih banyak pemandangan yang bisa dilihat.  Joni harus kembali membawa bag nya.  Jalanan bukan langsung menurun, tapi tetap banyak naik nya.. mudah2 an rute pulang ini ga terlalu jauh ya…

the traveller's bag

tapi belum sebanding dengan orang2 yang bekerja mengangkut bahan makanan ke atas gunung.. bisa berapa kali tuh naik turun dalam sehari..? seperti sedang latihan kungfu aja…

pengangkut barang

Nah, gimana jika kita uda merasa gak kuat lagi di tengah perjalanan mendaki ini..?  Jgn kuatir, ada juga pengangkut orang tenaga orang.. tinggal duduk di kursi, diangkut, tapi gw sih ngeliatnya ngeri ya.. apalagi jika melewati naikan yang agak terjal.. bayarannya tentu mahal banget, dihitung dari titik A ke titik B. Minimal 100rb.

Disewakan jasa angkutan kursi tandu

solusi bagi turis yang punya duit dan uda cape

yang diangkut betul2 bergantung kepada pengangkut. Kalo satu jatuh, semua bisa jatuh...

Rute pulang ini ternyata lebih “curam” daripada rute datang.  Sambil menikmati pemandangan, kita harus berhati-hati dengan jalan yang sempit atau curam, tanpa ada pegangan di sampingnya.

di tepi jalanan yang curam

kudu extra hati2 di turunan ini

rute yang curam

tangga mengitari gunung

beautiful mountain and sky!

Setelah menempuh perjalanan 2 jam lebih… cable train nya sudah kelihatan!  wahh senang bgt krn sudah berakhir, tapi juga merasa sayang karena belum tentu bisa kesini lagi.. oh ya, kalo yang masih kuat, bisa berjalan hingga ke bawah sekali tanpa cable train.  Rencana awal kita yang ingin turun jalan kaki ternyata batall.. gw sudah tidak kuat lagi hehehehe…

kereta gantung untuk turun

amazed dengan pembuatan kereta gantung ini

kali ini jarak turun nya lebih pendek, sekitar 15 menit.  Tapi tetap saja terasa deg2-an hehehe… thank God kita bisa sampai dengan selamat.  Di sini terdapat tourist center yg menyediakan berbagai informasi seputar huangshan.

Di tourist center ini kita bisa mendapat informasi ttg huangshan

miniatur pegunungan huangshan

Kirain uda nyampe di tempat bis, eh ternyata belum… bis belum bisa naik kesini karena jalan nya lagi diperbaiki.. ya musti jalan lagi deh..

yah jalan lagi deh...

dan ternyata masih ada tangga lagi...

setelah tangga ada sungai yang airnya bening banget..

End of journey in Huangshan mountain… setelah makan siang, kami kembali ke kota Yiwu

Beberapa Tips buat turis yang mau mendaki Huangshan :

~ Pergi pada musim panas/semi adalah waktu terbaik, kecuali anda ingin melihat salju pada musim dingin.  Tapi menurut gw, ga ada salju aja uda sulit, apalagi jika bersalju, pasti licin dan berbahaya.  Apalagi jika ada badai salju.

~ Pake baju dan sepatu yang tepat untuk mendaki, dan bawalah ransel dengan perlengkapan secukupnya, supaya tidak membebankan pendakian.

~ Lebih enak memang menginap semalam di hotel2 yg terdapat disana jika anda ingin melihat sunset dan sunrise (jika ikut tur lokal), tapi harga makanan sgt mahal dan kurang enak, lebih baik bawa pop mie aja heheheh…

~ Jika tidak mau menginap, pilihlah rute yang tidak terlalu panjang, sehingga cukup waktu untuk naik dan turun.  Lebih baik mengajak seorang tur guide lokal yang bisa bhs inggris jika anda tidak mau bergabung dengan keramaian tur.  Karena terus terang, ikut tur rame-rame itu cukup berisik buat gw.

~ Biaya utk cable train; 80 yuan / sekali naik.  Gunakan ini jika tidak ingin terlalu cape ketika naik/turun

~ Peralatan wajib; video/kamera yang bagus +  memory card yang besar, anda tidak akan kehabisan tempat untuk berfoto.  Topi + sunglass + suncream kalau ga tahan sinar matahari.  Jaket jika anda tidak tahan dingin, karena pada saat malam cukup dingin.

~ Belilah tongkat yang banyak dijual di bawah sebelum pendakian, itu akan membantu

Shall not forget this amazing trip!

unforgettable mountain

Menyusuri sejarah Dinasti China di Hengdian World Studio

Kalau sudah pergi ke Yiwu, jangan lupa ke DongYang. Di kota kecil yang jauhnya hanya 45 menit dari Yiwu, terdapat tempat wisata yang menarik, yaitu Hengdian World Studio. Inilah tempat syuting film terbesar di dunia. Jika mau mengelilingi semua lokasi wisatanya, perlu 3 hari kalau mau puas  (lihat di www.hengdianworld.com Karena hanya punya waktu 1 hari, kami hanya sempat mengunjungi 2 lokasi saja, yaitu

Ming and Qing Dynasti Palace (Istana Raja2 dinasti Ming dan Qing yang terakhir memerintah sebelum China menjadi republik). Bentuk dan ukuran nya sama persis dengan Kota Terlarang (Forbidden City) yang ada di Beijing. Ga sempat ke Beijing, kesini uda cukup hehehe… biaya masuknya 95 yuan/ org.

Great Ming Gate (gerbang pertama)

Halaman menuju gerbang kedua

Jinshui Bridge dan Gerbang Tiananment (gerbang kedua)

Meridian Gate (gerbang ketiga)

Gate of Supreme Harmony (gerbang ke-4)

Hall of Supreme Harmony

Singgasana raja

Gate of Celestial Purity

Di gerbang ini kami tidak bisa masuk karena ada shooting film

Tempat kedua yaitu Qin Dynasty Palace (Dinasti ini yang membangun Tembok Besar dan Terracota Army). Bagi penggemar film silat, pasti senang banget ke sini, karena tempat ini banyak dipakai untuk syuting film, diantaranya film Hero (Jet Li) dan Forbidden Kingdom (Jackie Chan dan Jet Li). Biaya masuk 90 yuan/org. Hiatttt…!!

Gerbang Qin Palace

Pintu gerbangnya tinggi banget

Rasanya sering melihat lorong ini di film

Totempoles, carved and painted with dragon stand tall, was the symbol of unification of the world by Emperor Qin Shi Huang

Flying dragon in front of 99 stairs are patron saints of Qin's Palace. It is an imaginary product which gathers seven animals' essences: head of crocodile, horn of deer, whisker of carp, body of sanke, wing of bird, claw of eagle, and scale of fish, all of which manifest the dignity and loftiness of royal family.

Singgasana Raja, kalau mau foto disana mesti bayar

Terrakota army

my husband loves this place

Senjatanya gede amat

Chariot for attacking city

Watch Tower

Masih ada 8 lokasi wisata di daerah ini, tapi kami ga sempat untuk pergi ke semuanya, sayang juga ya..nah ada yang mau menjajali semua tempat ini?

Tarif masuk ke Hengdian World Studio

Yiwu, kota perdagangan internasional di China

Yiwu terletak di Propinsi Zejiang, sebuah kota kecil, tapi menjadi berkembang karena dijadikan kota perdagangan internasional. (Inilah kehebatan pemerintah disana, semua kota dikembangkan, tidak hanya pembangunan di kota besar). Disini terdapat pusat perbelanjaan grosir yang sangat besar, dan para pedagang yang datang kesini berasal dari seluruh dunia. Warga sekitar banyak yang menjadi lebih makmur, terlihat dari banyak mobil-mobil mewah eropa di jalanan. Sayangnya, peningkatan kesejahteraan orang-orang disini tidak disertai dengan etika mereka. Orang merokok dimana-mana, bahkan di tempat umum. Jika kita makan di restoran ac ataupun non ac, kebanyakan pria sehabis makan pasti merokok. Kalo mau duduk di restoran, gw milih duduk di meja yang jauh dengan orang lain. Sopir taksi juga banyak yang merokok (tarif taksinya seperti di Jkt, tapi non-ac sehingga kaca jendelanya dibuka). Pelayanan restoran juga tidak terlalu bagus, kadang-kadang kita sudah duduk di meja atau sudah pesan makanan tapi peralatan makan nya belum ada, dan kita mesti panggil pelayan (kurang inisiatif). Parkir mobil pada asal-asalan (tapi gratis loh dimana-mana), dan perang klakson mobil dimana-mana, termasuk juga di malam hari. Orang2 menyetir dengan terburu-buru. Jika kita kuatir naik taksi di Jakarta akan dibawa lebih jauh daripada jalan sebenarnya, disini malah sopir taksinya sangat buru-buru, mau mengantar kita secepatnya. Saking cepatnya, ga peduli mau ngerem mendadak, mau ke kiri atau ke kanan, seperti lagi balapan. Bagi yang ga biasa naik mobil kaya gini pasti mabok deh. Tarif taksi per buka pintu 5 yuan (1 yuan = rp 1350) ditambah charge tambahan 3 yuan dari tarif argo yang tertera setelah kita sampai tujuan.

Pusat perdagangan Yiwu (International Trade Market) dikenal dengan Futien Market, terdiri dari beberapa gedung dengan ribuan toko. Mereka adalah para pedagang atau perwakilan pabrik dari seluruh China. Dari mulai barang pecah belah, pakaian, aksesoris, mainan, sampe mesin-mesin dan elektronik ada disini. Jika kita ingin membeli barang disini, lebih baik kita menggunakan jasa Shipping Agent/ Export Agent. Banyak pedagang china yang nakal, mereka mengirimkan barang yang tidak sesuai dengan pesanan/ sample yang kita lihat di toko, jadilah kita ditipu oleh mereka. Karena hal itu, banyak perusahaan jasa di Yiwu yang bisa membantu kita membeli barang. Mereka akan mencatat barang2 yang kita inginkan dengan detil, mengatur pengiriman, dan mendapat komisi berapa persen dari total pembelian kita.

Info tambahan, toilet umum di mal ini (dan juga katanya di sebagian besar china) adalah toilet jongkok, dan tidak ada air kran / jet washer, apalagi tisue. Hanya ada air untuk flush (dengan menginjak pedal). Bingung juga gw waktu pertama kali liat toiletnya, langsung kepikiran gimana yah jika mau boker?? Belum lagi bau pesing bgt deh. Jadi, jangan lupa untuk membawa air sendiri dan tissue jika anda mau boker di toilet2 umum yah (kecuali toilet di hotel lebih bagus uda pake duduk,tapi di hotel yang kita nginep bintang 4 juga ga ada jet washer nyaa…??

View kota Yiwu dari Bali Plaza hotel

view Yiwu dari Bali Plaza Hotel

Salah satu distrik dari Futien Market

Peralatan makan di rumah makan selalu dibungkus plastik

the best suki restaurant in Yiwu, must try!

Hangzhou China, the green town

Hangzhou,  Zejiang province

Perjalanan dari Shanghai ke Hangzhou sekitar 2 jam naik bis. Kami mengikuti tur lokal (dengan guide lokal yang tidak bisa bhs inggris huhuhu…) sehingga apapun yang dia ceritakan, gw kaga ngerti… Tapi gw sangat terkesan dengan kota ini. Jalan-jalan nya bagus, punya jalur khusus di pinggir untuk sepeda dan motor, dan pepohonan hijauuuu di sepanjang jalan. Enak banget tuh buat sepedaan.. kapan yah jkt bisa kaya gini bagusnya…?? Betul-betul kota yg sejuk, rapi dan nyaman.

Kapan ya Jkt punya jalur sepeda kaya di Hangzhou gini?

Betah jika jalan kaki atau sepedaan di bawah pohon gini

Danau Xi Hu (West Lake)

Danau Xi Hu dikelilingi oleh taman-taman yang indah dan banyak kuil pagoda. Tarif naik kapal untuk melintasi danau ini sekitar 45 yuan. Setelah itu, kita bisa berjalan-jalan santai mengelilingi taman. Enak banget untuk refreshing, karena sejuk dan hijau dimana-mana.

Di atas kapal menyusuri danau

Pemandangan di sekeliling danau

pintu masuk taman xihu

Taman Xi Hu enak buat pacaran hahaha...

Silk Museum dan Tempat penjualan teh

Gak jelas namanya apa, tapi yang jelas tempat ini isinya mesin pemintal sutera, dan ujung-ujungnya ada jualan bed cover, kain-kain dan baju sutera. Barangnya mahal-mahal (rata2 di atas 1juta), dan gw ga terlalu tertarik untuk membeli. Di tempat penjualan teh juga kita ga beli apa-apa hehehe.. walaupun presentasi teh nya bagus. Gw lebih suka enjoy pemandangan kebun teh dan perbukitan di sepanjang perjalanan.

Ada satu tempat lagi yang seharusnya kita masuki, tapi gara-gara kita ga mengerti bahwa kita harus membeli tiket lagi untuk masuk ke dalam kuil tersebut (repotnya begini jika kita ga bisa bhs mandarin dan tur guide nya ga bisa English) kita ga jadi masuk. Soalnya tiketnya harus dibeli oleh tur guide (nah loh??) dan tur guide nya sudah meninggalkan kita untuk masuk duluan dan kita ketinggalan huhuhuhu…

Tempat penjualan sutera

Perkebunan teh seperti di puncak

Kuil yang kita ga bisa masuki

Perkampungan sekitar kuil

Semalam di Shanghai, China

Kota pertama yang kami singgahi adalah Shanghai.. Kota terbesar di China, dengan jumlah penduduk sekitar 15 juta jiwa. (bandingkan dengan Jakarta yang sekitar 8jt jiwa). Di sepanjang kota banyak apartment dan gedung-gedung tinggi yang berdesain moderen. Macet juga terjadi disini, walaupun Shanghai sudah memiliki Metro (MRT) dan Maglev (kereta api canggih). Tapi polusi asap kendaraan bermotor kok tidak kelihatan ya? Habis, yang gw liat semuanya mobil-mobil bagus dan tidak kelihatan asap knalpot sama sekali. Uniknya, motor mereka juga motor listrik (tidak menggunakan bensin) dan suaranya halus banget bahkan tidak bersuara, jauhhh banget dengan motor-motor di Indonesia yang berlomba-lomba dalam suara. Hanya saja, pengemudi mobil di Shanghai suka membunyikan klakson, jadi gw agak terganggu dengan suara klakson.

Jalan di Shanghai

Apartment di Shanghai

Jalan tol di Shanghai

Nanjing Roadadalah pusat shopping bagi para turis! Yah, kaya Pasar Baru di Jakarta, tapi tempat ini didesain dengan keren dan bersih, nyaman banget untuk pejalan kaki. Apalagi jika malam hari, wah semua bilboard tokonya menyala terang warna warni. Jika kita hanya ingin melihat-lihat tanpa berbelanja, kita bisa naik kereta kecil dari ujung ke ujung (karena jalan nya lumayan panjang loh, 1km lebih..) Tapi jika kita ingin shopping atau foto, jalan kaki aja lebih seru. Kalau cape, kita bisa duduk di kursi-kursi semen yang disediakan di tengah-tengah jalan. Di sepanjang jalan ini terdapat Dept Store, supermarket, dan toko-toko pakaian branded. Mau cari sepatu, baju, tas, makanan dan suvenir, banyak disini. Tapi harganya kayanya ga murah deh… kayanya sama aja seperti di Jakarta. Yang enak suasananya, semakin sore semakin ramai.
 

 

Setelah menyusuri Nanjing Road (ikuti saja kemana orang banyak pergi) maka kita akan sampai di Shanghai Bund yang sangat terkenal… Shanghai Bund adalah daerah pinggiran sungai HuangPu. Di seberang sungai kita bisa melihat pemandangan Shanghai Tower, Shanghai World Financial Center (gedung tertinggi di Shanghai yang memiliki 100 lantai) dan gedung2 moderen lainnya. Tapi di sebelah sisi yang dekat Nanjing Road, malah terdapat gedung-gedung berarsitektur Eropa klasik. Pemandangan pada malam hari lebih bagus, karena semua gedung-gedung itu dipasangi lampu kuning. Gedung-gedung kuno ini tampaknya sudah berusia ratusan tahun. Betah banget duduk ngobrol sambil menikmati pemandangan disini. Banyak banget orang disini, tidak terhitung banyaknya, sampe sulit untuk berfoto tanpa terhalangi orng lain.

the Shanghai Bund

Gedung arsitektur eropa di Shanghai Bund

Gedung dipasangi lampu2 pada malam hari

night at shanghai bund

coba ada tempat nongkrong kaya gini di Indo...

Makanan. Jika kita ingin mencicipi masakan china, banyak sekali restoran di sekitar Nanjing Road. Tapi jika kita bingung mau makan apa (ga tau tempat makan yang enak), gw saranin lebih baik ke restoran2 internasional aja yang kita sudah tau. Kebetulan hotelku dekat Pizza Hut, jadi kita mampir untuk makan disitu (sebelumnya makan mie di restoran apa gitu, tapi ga enak hehehe…). Lucunya gw baru tau kalo org2 disini ternyat ga makan sambal kaya kita gitu loh! Jadi waktu gw minta sambal di pizza hut, ga ada. Ketika gw lihat ke semua meja, ternyata ga ada yang makan pake sambal. Pantesan sodara gw yg ikut rombongan kita bawa sambal abc kesini. KFC disini juga ga pake sambal juga. Jadi,bagi para pecinta sambal yang mau ke china, bawa sendiri ya sambalnya dari Indo hehehe…

the Twelve Disciples (Matthew/Levi, the tax collector)

Disciples of Christ: Matthew The Tax Collector 

Matthew was a “publican” or tax collector for the Romans. Tax collectors made a good living. They were generally despised by their fellow Jews and merely tolerated by their Roman employers. Tax collectors were creative in finding ways to tax the people. Luke 3:13 states, “They overcharged [and] brought false charges of smuggling in the hope of extorting hush-money”. Other ways of making money included taxes on axles, wheels, animals, roads, highways and admission to markets. Some even charged pedestrians taxes.

Mark (Mark 2:14) and Luke (Luke 5:27) refer to Matthew as Levi. Matthew may have been from the tribe of Levi. The tribe of Levi was largely absorbed by the tribe of Judah after the kingdom of Judah had been exiled and returned from Babylon several centuries prior. Matthew was probably fluent in Greek and Aramaic. Greek was the official language while Aramaic was the local dialect. Matthew was literate and an educated writer and scribe. It is also believed that he knew a form of shorthand called tachygraphy. This may be the reason why he was able to write the detailed accounts of Christ’s spoken sermons including the long Sermon on the Mount.

Matthew resided in Capernaum located on the northern shore of the Sea of Galilee. This was a large region that was heavily populated. Many lived and worked around the lake. It had numerous fisheries and lots of surface traffic because it was a major trade route through the region. The Romans set up a customhouse in the region and appointed Matthew as the tax collector. This was considered a lucrative and powerful position because he was supported by the strength of the Roman Empire. Rome was the greatest power on the earth. Because of the lucrative trade and fishing industries, Matthew probably had a very profitable position and was probably considered wealthy.

Matthew had a very profitable career, backed by the power of Rome. He probably had acquired great wealth and was not lacking in worldly needs. He was able to have lavish feasts to entertain many guests. Though he was despised by most of his fellow countrymen, he probably had other friends that were also quite wealthy and only concerned by worldly goods. He probably entertained officials from Rome who merely acknowledged his presence but benefited from the food and wine.Matthew abruptly went from serving money to serving the Lord. Matthew, Mark, and Luke all recorded Matthew’s calling. Scripture implies Matthew willingly gave up everything as required by Christ. “If anyone comes to Me and does not hate [that is, to love less or place in lower priority] his father and mother, wife and children, brothers and sisters, yea and his own life also, he cannot be My disciple. And whoever does not bear his cross and come after Me cannot be My disciple” (Luke 14:26-27). One day, Matthew was sitting at the tax office when his life changed from serving man to serving the Lord. Matthew 9:9 describes the change: “As Jesus passed…He saw a man named Matthew sitting at the tax office. And he said to him, “Follow Me.” So he arose and followed Him”.

Matthew responded with great enthusiasm at His calling by Jesus Christ. Matthew prepared a feast for Jesus and His other disciples. Matthew also invited his other friends who included other tax collectors, scribes, and Pharisees. This feast provided a spiritual lesson. While wining and dining his guests, the Pharisees asked Jesus and His disciples “Why do you eat and drink with tax collectors and sinners? Jesus answered them and said to them, “Those who are well have no need of a physician, but those who are sick. I have not come to call the righteous, but sinners, to repentance” (Luke 5:29-32).

The scribes and Pharisees held a self-righteous attitude. They did not consider themselves sinners. They felt they had no reason to change.

In contrast to Matthew, there is another story of another wealthy young man. This young man approached Jesus and asked what was required for eternal life. Point blank, Jesus answered “keep the commandments” (Matthew 9:17). The young man asked Him which ones he meant. Jesus responded by citing several of the Ten Commandments.. The young man replied that he had faithfully kept the commandments since childhood. He asked what else he could do. Jesus replied, “If you want to be perfect, go, sell what you have and give to the poor, and you will have treasure in heaven; and come, follow me” (Matthew 19:21). The young man walked away dejected, “for he had great possessions (verse 22). Jesus turned to His disciples: “Assuredly, I can say to you that is harder for a rich man to enter the kingdom of heaven. And again I say to you, it is easier for a camel to go through the eye of a needle than for a rich man to enter the kingdom of God” (verses 23-24).

Matthew willingly chose to follow Christ. The young man placed material wealth over spiritual wealth. This is so common in the present. There is almost a quest for the almighty dollar. But at what price? Is the dollar worth more than a child’s first step? Is the dollar more important than self worth? What price are you willing to pay? Do you want the rewards of this Earth or do you want the rewards in heaven? Matthew was posed these same questions. He had worldly possessions and wealth. He chose to cash this in for spiritual wealth. Given the opportunity, would you do the same?

Matthew followed Jesus’ call. He gave up the rich luxurious life to become one of Christ’s disciples. Matthew was blessed to witness the miracles that Christ performed. He went on to write the Gospel that has detailed so much of Christ’s time on earth. Matthew was once a publican; He answered the call to become one of Christ’s disciples. He gave up material wealth to become one with God. Matthew witnessed and recorded the crucifixions, death, and resurrection of Jesus Christ. Would you do the same?

(a good thought from source http://www.essortment.com/all/biblematthew_rbus.htm )

God did not love Levi any more than he loves you and me. He is calling us today just as he was calling Levi 2000 years ago;

1. We are called while in sin
2. We are called by Christ
3. We are called to repentance
4. We are called to follow
5. We are called to share our faith



the Twelve Apostles (Philip and Nathanael)

Filipus, mengawali “kariernya” sebagai murid Yesus dengan langsung membawa Natanael ke Yesus.  Awal yang luar biasa bukan? Dari sejak awal dia punya keyakinan bahwa dia telah melihat nubuat Musa ttg Yesus.  (yoh 1:43)

Dalam perjalanan kariernya, tampaknya Filipus mengalami “kemunduran”.  Di Yoh 6:5-7, Yesus menguji Filipus dengan menyuruhnya membeli roti untuk 5000 org.  Respon Filipus adalah gaji 8 bulan pun tidak cukup untuk membeli roti ut org sebanyak ini! (di dalam alkitab indo, dituliskan roti seharga 200 dinar, di alkitab NIV tertulis “gaji 8 bulan”).  Tidak seperti Andreas yang berusaha untuk mencari solusi, Filipus berpikir akan beban dari suatu kondisi.

Ketika kita berhadapan dengan kondisi yang tidak mudah, apakah yg kita pikirkan? apakah kita akan merespon seperti Filipus? (waduh, gak ada jalan keluar mah kalo kaya gini)  Kadang2 Tuhan mau melakukan sesuatu, tapi Dia “hanya” ingin menguji iman kita.  Dia hanya ingin tahu “apa yg kita pikirkan”.

Yoh 14:7-10 kembali menceritakan kebodohan Filipus ketika dia minta Yesus untuk menunjukkan Bapa kpd mereka.  Kali ini Yesus menegur kebodohan dia.  (Saya membayangkan muka Filipus saat itu).  Tanpa sadar, kita bisa menjadi seorang kristen yang bodoh, karena tidak peka terhadap pekerjaan Tuhan.  Tuhan bekerja di sekeliling kita lewat FirmanNya, orang2, alam, dan berbagai kejadian.  Jika kita mengaku kristen, seharusnya kita lebih peka dan bisa belajar dari semua itu untuk mengetahui kehendak Tuhan.  Jika kita masih bodoh hari ini, apakah kita humble untuk belajar? dengan mempelajari Firman Tuhan, itu akan membuat kita lebih mengetahui kehendak Tuhan dan menguatkan iman kita. aminn

Natanael/ Bartolomeus

Bartholomew and Nathanael are recorded in the listings of the twelve apostles, but never together. In Matthew, Mark and Luke, Bartholomew is listed as one of the twelve, but Nathanael is not. Conversely, in John, Nathanael is listed, but Bartholomew is not. From that, many logically assume that Bartholomew and Nathanael were actually the same man who was known by two names, just as, for example, Peter was also known as Simon. Another clue that Bartholomew and Nathanael were the same apostle is that they are commonly mentioned with the apostle Philip e.g. “Philip and Bartholomew” (Matthew 10:3, Mark 3:18, Luke 6:14) or “Philip findeth Nathanael” (John 1:45 KJV)

(source : http://www.keyway.ca/htm2005/20051130.htm )

the Twelve Apostles (the doubting Thomas/ didymus)

Thomas appears in some passages in the Gospel of John. In John 11:16, when Lazarus has just died, the disciples are resisting Jesus’ decision to return to Judea, where Jesus’ fellow Jews had previously tried to stone him. Jesus is determined, and Thomas says bravely: “Let us also go, that we might die with him” (NIV).

He also speaks at The Last Supper.[Jn. 14:5] Jesus assures his disciples that they know where he is going but Thomas protests that they don’t know at all. Jesus replies to this and to Philip’s requests with a detailed exposition of his relationship to God the Father.

In Thomas’ best known appearance in the New Testament, [Jn. 20:24-29] he doubts the resurrection of Jesus and demands to touch Jesus’ wounds before being convinced. Caravaggio’s painting, The Incredulity of Saint Thomas (illustration above), depicts this scene. This story is the origin of the term Doubting Thomas. After seeing Jesus alive (the Bible never states whether Thomas actually touched Christ’s wounds), Thomas professed his faith in Jesus, exclaiming “My Lord and my God!” On this account he is also called Thomas the Believer.

(source http://en.wikipedia.org/wiki/Thomas_the_Apostle )

Thomas dikenal dengan “tomas yang tidak percaya”, tetapi buku Yohanes mencatat bbrp kejadian yang memperlihatkan sisi lain Tomas

Yoh 11:16 Tomas menunjukkan keberanian dan kesetiaan untuk mengikuti Yesus ke rmh Lazarus.  Padahal di pasal sebelumnya, Yesus baru saja kembali dari sana setelah dilempari batu oleh org2 yahudi.

Yoh 14:5 Tomas jujur dan bertanya kepada Yesus apa yang dia tidak mengerti

Yoh 20:24 Tomas absen ketika Yesus menampakkan kebangkitanNya kpd murid2 lain.  Tomas menjadi ragu, tapi Yesus menjawab keraguan Tomas dan menunjukkan tanganNya.

Yoh 20:28-29 Pengakuan iman tomas setelah melihat yesus

Yesus sangat personal dengan Tomas.  Dia tidak menyalahkan keraguan Tomas, tapi Dia menjawabnya.  Di dalam hidup kita, mungkin kita terkadang ragu terhadap Tuhan.  Jika kita punya hubungan yang personal dengan Tuhan, Tuhan akan menjawab doa2 kita spt Dia berkata kpd Tomas “blessed are those who have not seen, and yet have believed” amin

 

the Twelve Apostles (John, the disciple Jesus loved)

John was the brother of the apostle James; he was also the son of Zebedee (a fisherman of Galilee.)  His mother’s name was Salome who is believed to be a sister of Jesus’ mother Mary.

It is said that John owned a home in Jerusalem and that it is possible that the interview Nicodemus had with Jesus was held there.

The apostle John rose to a position of influence within world-wide Christianity and shortly before the destruction of Jerusalem by the Romans in 70 AD, he moved to Ephesus (in modern day, Turkey.)  He became the pastor of the church in Ephesus and had a special relationship with other churches in the area (as we know from the letters to the Seven Churches in Asia, in the book of Revelation.)

John’s brother, James, was the first of the apostles to die; on the other hand, John was the last.  All of the apostles met a violent death, however, John died peacefully in Ephesus (at an advanced age, around the year 100 AD.)

There is a church tradition, which says, that while John was living in Ephesus, John had with him Mary, the mother of Jesus, for a few years.

While in Ephesus, by order of the Roman emperor Domitian, John was exiled to an island called Patmos.  In what is known as the cave of the Apocalypse (located on this island), the sacred text of the book of Revelation was given to the apostle John by Jesus (it is here that John recorded what is written in the New Testament book of Revelation.)

Other New Testament books accredited to John are the Gospel of John, along with 1st, 2nd and 3rd John. When he was released from exile, he returned to Ephesus and lived till the time of the Roman emperor Trajan.

It is said that John, “Founded and built churches throughout all Asia, and worn out by old age, died in the sixty-eight year after our Lord’s passion and was buried near the same city (Ephesus).”

(source http://www.biblepath.com/john1.html )

Yohanes adalah penulis injil yang paling “personal” dengan Yesus, karena dia banyak sekali menceritakan tentang hubungan Yesus dengan orang2, dan ajaran2 Yesus yang dalam, yang tidak ada di injil lainnnya.  Menarik bagiku, dia menyebut dirinya sebagai “murid yang dikasihi Yesus”.  Tidak heran kenapa dia menuliskan banyak tentang kasih di buku 1-3 Yoh.  Membaca buku2 dia, sangat memberikan aku banyak encouragement.  God is Love, dan itulah yang dia betul2 rasakan sendiri dari kebersamaan nya dengan Yesus.  Yohanes mengikuti Yesus hingga di bawah kaki salib, dia adalah satu-satunya murid yang tercatat berada di kaki salib bersama Maria, ibu Yesus.  Yesus menghargai kesetiaan Yohanes dan bahkan meminta Yohanes untuk menjaga Maria. Wow! ini lah sebuah kisah persahabatan yang luar biasa antara Yesus dan Yohanes.

Kasih Tuhan hanya dapat dirasakan dan dinikmati, jika kita punya hubungan personal dengan Tuhan.  Kita bisa mendengar kotbahbahwa “Tuhan itu mengasihi” tapi belum tentu kita pribadi mengalami hal itu.  Siapa Tuhan buat kita pribadi? hanya sebagai pencipta, atau sebagai sahabat kita, yang kita selalu datang kepada Dia, dan kita punya hubungan dengan Dia?  Ada saat2 ketika aku merasa dekat dgn Dia ketika aku konsisten berdoa, membaca Firman, dan melakukan hal2 untuk menyenangkan Dia.  Tetapi ada juga saat ketika aku menjauhkan diri karena berdosa dan tidak fokus.  Aku bisa merasakan perbedaan “kasih Tuhan” dalam 2 waktu yang berbeda itu.  however, perjalanan rohani memang tidak mudah tapi aku tau bahwa ini adalah hal yang terpenting buatku, untuk mengasihi Tuhan dengan segenap hati, pikiran, dan kekuatan. amen